...........|| Tuesday, September 26, 2006 ||
Ketabahan Dalam Menghadapi Musibah
Musibah bagaikan goresan warna-warni tinta yang melukisi kehidupan kita, Silih berganti datang, tak terpisah dari kehidupan kita. Begitulah adanya musibah, dan begitulah sunnatullah yang berlaku, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:
''Sungguh, Kami pasti akan mengujimu dengan sebagian dari rasa takut, lapar, serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan..''(Al-Baqarah:155).
Namun, bukanlah sikap yang bijak jika kita menyikapi setiap musibah yang datang dengan cara-cara jahiliyah, menangis meraung-raung, memaki diri dan orang lain, atau bahkan sumpah serapah yang tak sopan dan tak perlu. Sebab, semua itu tidak akan mengurangi kadar musibah, dan justru menambah berat beban perasaan kita sendiri. Apalagi jika disertai 'tuduhan' dan persangkaan buruk terhadap kehendak Allah.
Musibah kerap membuat seseorang frustasi, seakan dunia sudah berakhir, dan tak jarang berakhir dengan usaha bunuh diri, wal iyadzu billah. Stres dan depresi yang melanda, jika tak diiringi benteng iman yang kokoh, memang bisa melahirkan atraksi bunuh diri. Beberapa artis barat, yang notabene berlimpah materi, berakhir mengenaskan seperti ini.
Sebagai seorang muslimah, yang merupakan taman tarbiyah bagi generasi penerus, sikap seperti itu tentunya perlu dibuang jauh-jauh dari kamus kehidupan. Maka, sabar menjadi perisai yang ampuh ketika menghadapi musibah. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:''...
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (Sesungguhnya kita milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kita kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk'' (Al-Baqarah: 155-157)
Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, seorang ulama yang karya-karyanya banyak berbicara masalah hati, membahas lebih jauh terapi penghilang duka lara dalam buku beliau. Buku rnyang oleh penerbit dan penerjemahnya diberi judul 'Meredam Duka Saat Menghadapi Musibah' ini banyak memberikan kiat dan terapi agar kita terhibur dan tidak larut dalam kesedihan yang panjang.
Hal pertama yang patut kita sadari, sebagai terapi yang paling mujarab, adalah bahwa kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah, sebagaimana yang ditunjukkan dalam ayat di atas. Keyakinan tersebut mempunyai dua prinsip agung, yang jika seorang hamba benar-benar memahami kedua prinsip tersebut, maka ia akan terhibur dari musibah yang menimpanya. Ibnul Qoyyim menjabarkan dua prinsip tersebut sebagai berikut,
Pertama, bahwa seorang hamba beserta keluarga dan hartanya benar-benar merupakan milik Allah subhanahu wa ta'ala. Milik Allah itu telah diserahkan kepada hamba sebagai pinjaman, maka jika Allah mengambil kembali pinjaman itu darinya, kedudukannya seperti pemberi pinjaman yang mengambil barang yang dipinjam. Keluarga dan hartanya itu selalu berada di antara dua ketiadaan, yaitu ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Kepemilikan hamba terhadapnya hanyalah kesenangan yang dipinjamkan dalam jangka waktu sementara. Hamba bukanlah yang mengadakannya dari ketiadaan, sehingga tidak bisa menjadi pemiliknya secara hakiki. Hamba juga tidak bisa menjaganya dari berbagai bencana setelah ia ada. Juga tidak bisa mengekalkan keberadaannya.
Jadi, seorang hamba sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadapnya, tidak memiliki secara hakiki. Bahkan, ia hanya dapat menggunakannya dalam batas wewenang seperti seorang budak yang diperintah dan dilarang, bukan sesuka hatinya seperti wewenang seorang pemilik. Karena itu, seorang hamba tidak boleh melakukan tindakan terhadapnya kecuali sesuai dengan perintah Pemilik yang hakiki.
Kedua, tempat kembali seorang hamba adalah Allah, tuannya yang sejati. Ia pasti meninggalkan dunia di belakangnya dan menghadap kepada Rabbnya seorang diri, sebagaimana ketika pertama kali ia diciptakan-Nya, tanpa ditemani oleh keluarga, harta, atau kerabat, melainkan hanya ditemani oleh amal kebajikan dan amal kejahatan. Bila demikian asal muasal seorang hamba, apa yang ditinggalkannya dan akhir hidupnya, bagaimana ia bisa bergembira dengan sesuatu yang ada atau berduka atas sesuatu yang tiada? Jadi, berpikir tentang asal muasal dan akhir kehidupan, merupakan terapi paling mujarab terhadap penyakit ini.
Pemahaman lain yang perlu kita yakini adalah bahwa apa pun yang ditakdirkan menimpa kita, tidak mungkin untuk dihindari, sebaliknya apa pun yang tidak ditakdirkan terluput dari kita, tidak mungkin menimpa kita. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
''Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.'' (Al-Hadid: 22-23).
Beliau, Ibnul Qoyyim, juga memberikan terapi dan kiat lainnya untuk meringankan dan menghilangkan duka akibat musibah yang menimpa. Beliau juga mengetengahkan teladan Rasulullah dalam menghadapi kesulitan, kecemasan, dan kesedihan.
Kapasitas penulisnya, membuat ukhti tidak perlu ragu lagi untuk memiliki atau paling tidak membaca buku yang diterbitkan oleh Penerbit Al-Qawam setebal 92 halaman ini. Buku ini cukup tipis, dan dapat dibawa ketika ukhti bepergian, tentu saja untuk dibaca, direnungkan, dan terutama diamalkan isinya.
Semoga bermanfaat.
posted by ABDUL BASIT
@ 2:22 PM
1 comments
![]()
...........|| Monday, September 25, 2006 ||
PULAU BAWEAN DALAM MEDIA
KORAN KOMPAS
Jawa Timur
Selasa, 19 September 2006
InfrastrukturListrik Akan Menyala Penuh
Gresik, Kompas - Listrik di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, baru akan menyala penuh mulai malam Lebaran. Karena itu, selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, 9.600 pelanggan listrik di Pulau Bawean akan tetap menikmati listrik seperti sekarang ini, yakni menyala pukul 17.00 hingga 10.00 setiap harinya.
Kuasa Hukum PT Arto Ajeng Energi (AAE) Zulfan Hasyim, yakni kontraktor jaringan listrik di Pulau Bawean, Senin (18/9), mengatakan, listrik belum bisa menyala penuh selama Ramadhan karena nota kesepahaman atau MOU dengan Pemkab Gresik belum ditandatangani. "Bila MOU sudah tuntas, klien kami akan segera mengoperasikan jaringan listrik," kata Zulfan.
Menurut Zulfan, hingga saat ini PT AAE belum menetapkan harga jual listrik kepada masyarakat. Pihaknya sampai sekarang baru menyerahkan ke Pemkab Gresik komponen pendukung harga listrik per kilowatt hour (kWh). Komponen ini nantinya akan dibahas Pemkab Gresik dan DPRD Gresik sebelum menetapkan harga jual listrik.
"Yang pasti dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ini harga pemakaian listrik per kWh akan lebih mahal dari PLN," ujarnya.
Hal ini disebabkan pembangkit listrik menggunakan bahan bakar minyak. Adapun untuk menekan harga jual listrik nantinya akan digunakan bahan bakar alternatif marine fuel oil (MFO).
Selama ini listrik di Pulau Bawean hanya dijual Rp 680 per kWh, padahal biaya operasional mencapai Rp 1.800 per kWh. Bahan bakar solar yang diperlukan sebanyak 275.000 liter per bulan.
PT PLN Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Gresik menyatakan, sejauh ini belum ada pembicaraan atau berkordinasi terkait dengan pengalihan pengelolaan listrik di Bawean kepada swasta. Aset PLN di Bawean termasuk jaringan senilai sekitar Rp 1 miliar dan empat genset.
"Namun, rencananya aset-aset milik PLN khususnya jaringan listrik akan disewakan kepada pengelola. Mengenai tarif selanjutnya menjadi wewenang penuh dari pengelola yang diputuskan oleh Pemkab Gresik," kata Humas PLN APJ Gresik Amari. (ACI)
Jawa Timur
Selasa, 19 September 2006
InfrastrukturListrik Akan Menyala Penuh
Gresik, Kompas - Listrik di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, baru akan menyala penuh mulai malam Lebaran. Karena itu, selama menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, 9.600 pelanggan listrik di Pulau Bawean akan tetap menikmati listrik seperti sekarang ini, yakni menyala pukul 17.00 hingga 10.00 setiap harinya.
Kuasa Hukum PT Arto Ajeng Energi (AAE) Zulfan Hasyim, yakni kontraktor jaringan listrik di Pulau Bawean, Senin (18/9), mengatakan, listrik belum bisa menyala penuh selama Ramadhan karena nota kesepahaman atau MOU dengan Pemkab Gresik belum ditandatangani. "Bila MOU sudah tuntas, klien kami akan segera mengoperasikan jaringan listrik," kata Zulfan.
Menurut Zulfan, hingga saat ini PT AAE belum menetapkan harga jual listrik kepada masyarakat. Pihaknya sampai sekarang baru menyerahkan ke Pemkab Gresik komponen pendukung harga listrik per kilowatt hour (kWh). Komponen ini nantinya akan dibahas Pemkab Gresik dan DPRD Gresik sebelum menetapkan harga jual listrik.
"Yang pasti dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ini harga pemakaian listrik per kWh akan lebih mahal dari PLN," ujarnya.
Hal ini disebabkan pembangkit listrik menggunakan bahan bakar minyak. Adapun untuk menekan harga jual listrik nantinya akan digunakan bahan bakar alternatif marine fuel oil (MFO).
Selama ini listrik di Pulau Bawean hanya dijual Rp 680 per kWh, padahal biaya operasional mencapai Rp 1.800 per kWh. Bahan bakar solar yang diperlukan sebanyak 275.000 liter per bulan.
PT PLN Area Pelayanan dan Jaringan (APJ) Gresik menyatakan, sejauh ini belum ada pembicaraan atau berkordinasi terkait dengan pengalihan pengelolaan listrik di Bawean kepada swasta. Aset PLN di Bawean termasuk jaringan senilai sekitar Rp 1 miliar dan empat genset.
"Namun, rencananya aset-aset milik PLN khususnya jaringan listrik akan disewakan kepada pengelola. Mengenai tarif selanjutnya menjadi wewenang penuh dari pengelola yang diputuskan oleh Pemkab Gresik," kata Humas PLN APJ Gresik Amari. (ACI)
Jawa Timur
Jumat, 16 Juni 2006
InfrastrukturJalan Lingkar Bawean Rusak
Bawean Kompas - Jalan utama yang melingkari Pulau Bawean dari Kecamatan Sangkapura hingga Kecamatan Tambak sepanjang lebih kurang 60 kilometer rusak. Titik-titik kerusakan jalan bisa ditemui di Desa Lebak, Desa Suwari, dan Dekat Agung, Kecamatan Sangkapura.
Adapun kerusakan jalan di Kecamatan Tambak, menurut pengamatan Kompas, belum lama ini terdapat di Desa Telukjati Dawang, Gelam, Sukaoneng, Pekalongan, Tambak, Labuhan, Ponggoh, dan Kepuh Legundi.
Penyebab kerusakan jalan akibat aspal mengelupas dan kualitas konstruksi jalan yang kurang kuat. Selain itu, ditemui juga jalan yang longsor akibat saluran air tersumbat sehingga ketika hujan air meluber ke jalan.
Aspal jalan terkelupas sehingga membentuk lubang besar, sebagian tergenang air dan sebagian bebatuannya terbuka. Kerusakan lainnya terdapat di tepi laut yang dikarenakan terkikis abrasi. Adapun panjang yang terkena abrasi mencapai sekitar 500 meter. Kondisi jalan yang rata-rata sempit juga membuat kendaraan sulit berpapasan.
Beberapa warga masyarakat menyebutkan, sebagian ruas jalan utama di Pulau Bawean terakhir diperbaiki pada tahun 2002 dan hingga sekarang belum ada perbaikan ulang. Pengguna jalan sering harus zig- zag menghindari lubang yang tergenang air atau batu-batu tajam.
Beberapa warga mengatakan, jalan yang rusak itu bagaikan sungai kering. Kerusakan dapat dirasakan baik mengendarai sepeda moor maupun mobil. Tubuh akan terasa diguncang-guncang keras saat kendaraan menghindari lubang-lubang di jalanan. (ACI)
Jawa Timur
Rabu, 07 Juni 2006
Pulau BaweanPotensi Wisata Belum Tergarap
Gresik, Kompas - Beberapa aset dan potensi Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, yang layak dikembangkan sebagai tujuan wisata, hingga saat ini belum tergarap. Meskipun banyak daya tariknya, namun akses dan sarana transportasinya masih belum siap.
Jalan lingkar Bawean sepanjang 58 kilometer yang rusak parah hingga Selasa (6/6) belum diperbaiki, sementara sarana transportasi yang tersedia sangat terbatas. Bahkan, kapal cepat tiga jam dari Gresik ke Bawean pun hanya beroperasi dua kali seminggu, yakni Rabu dan Sabtu.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Bawean, Mansur Maksum, potensi di Bawean tidak ada artinya kalau tidak dikelola dengan baik.
Di pulau berpenduduk sekitar 60.000 jiwa itu terdapat Danau Kastoba, Pantai Selayar, hamparan pasir putih di Pantai Ria, sumber air panas, serta air terjun yang memiliki daya pikat tersendiri. Keberadaan rusa Bawean di Desa Tampo, Kecamatan Sangkapura, juga layak sebagai tujuan riset dan studi. Kepala Subdinas Informasi dan Komunikasi Dinas Pariwisata Infornasi dan Komunikasi Kabupaten Gresik Didik Hadi Sudjoko mengakui memang banyak obyek yang seharusnya bisa dikembangkan untuk tujuan wisata, tetapi belum dikelola. "Koordinasi antarinstansi pun masih lemah. Padahal, tidak mungkin potensi wisata berkembang tanpa koordinasi," ujarnya.
Dia memberi contoh, dinas perhubungan dapat menyiapkan kemudahan akses transportasi. Dinas pekerjaan umum menyediakan insfrastruktur, sedangkan dinas pasar menangani pedagang cindera mata. (ACI)
Jumat, 16 Juni 2006
InfrastrukturJalan Lingkar Bawean Rusak
Bawean Kompas - Jalan utama yang melingkari Pulau Bawean dari Kecamatan Sangkapura hingga Kecamatan Tambak sepanjang lebih kurang 60 kilometer rusak. Titik-titik kerusakan jalan bisa ditemui di Desa Lebak, Desa Suwari, dan Dekat Agung, Kecamatan Sangkapura.
Adapun kerusakan jalan di Kecamatan Tambak, menurut pengamatan Kompas, belum lama ini terdapat di Desa Telukjati Dawang, Gelam, Sukaoneng, Pekalongan, Tambak, Labuhan, Ponggoh, dan Kepuh Legundi.
Penyebab kerusakan jalan akibat aspal mengelupas dan kualitas konstruksi jalan yang kurang kuat. Selain itu, ditemui juga jalan yang longsor akibat saluran air tersumbat sehingga ketika hujan air meluber ke jalan.
Aspal jalan terkelupas sehingga membentuk lubang besar, sebagian tergenang air dan sebagian bebatuannya terbuka. Kerusakan lainnya terdapat di tepi laut yang dikarenakan terkikis abrasi. Adapun panjang yang terkena abrasi mencapai sekitar 500 meter. Kondisi jalan yang rata-rata sempit juga membuat kendaraan sulit berpapasan.
Beberapa warga masyarakat menyebutkan, sebagian ruas jalan utama di Pulau Bawean terakhir diperbaiki pada tahun 2002 dan hingga sekarang belum ada perbaikan ulang. Pengguna jalan sering harus zig- zag menghindari lubang yang tergenang air atau batu-batu tajam.
Beberapa warga mengatakan, jalan yang rusak itu bagaikan sungai kering. Kerusakan dapat dirasakan baik mengendarai sepeda moor maupun mobil. Tubuh akan terasa diguncang-guncang keras saat kendaraan menghindari lubang-lubang di jalanan. (ACI)
Jawa Timur
Rabu, 07 Juni 2006
Pulau BaweanPotensi Wisata Belum Tergarap
Gresik, Kompas - Beberapa aset dan potensi Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, yang layak dikembangkan sebagai tujuan wisata, hingga saat ini belum tergarap. Meskipun banyak daya tariknya, namun akses dan sarana transportasinya masih belum siap.
Jalan lingkar Bawean sepanjang 58 kilometer yang rusak parah hingga Selasa (6/6) belum diperbaiki, sementara sarana transportasi yang tersedia sangat terbatas. Bahkan, kapal cepat tiga jam dari Gresik ke Bawean pun hanya beroperasi dua kali seminggu, yakni Rabu dan Sabtu.
Menurut salah satu tokoh masyarakat Bawean, Mansur Maksum, potensi di Bawean tidak ada artinya kalau tidak dikelola dengan baik.
Di pulau berpenduduk sekitar 60.000 jiwa itu terdapat Danau Kastoba, Pantai Selayar, hamparan pasir putih di Pantai Ria, sumber air panas, serta air terjun yang memiliki daya pikat tersendiri. Keberadaan rusa Bawean di Desa Tampo, Kecamatan Sangkapura, juga layak sebagai tujuan riset dan studi. Kepala Subdinas Informasi dan Komunikasi Dinas Pariwisata Infornasi dan Komunikasi Kabupaten Gresik Didik Hadi Sudjoko mengakui memang banyak obyek yang seharusnya bisa dikembangkan untuk tujuan wisata, tetapi belum dikelola. "Koordinasi antarinstansi pun masih lemah. Padahal, tidak mungkin potensi wisata berkembang tanpa koordinasi," ujarnya.
Dia memberi contoh, dinas perhubungan dapat menyiapkan kemudahan akses transportasi. Dinas pekerjaan umum menyediakan insfrastruktur, sedangkan dinas pasar menangani pedagang cindera mata. (ACI)
Jawa Timur
Kamis, 18 Mei 2006
Kapal Cepat
Dioperasikan Gresik-Bawean Dua Kali Setiap Minggu
Gresik, Kompas - Kapal Motor Cepat Express Bahari 8B dengan kapasitas 359 penumpang dioperasikan dari Gresik-Bawean dua kali pergi pulang setiap minggu. Dengan dioperasikannya kapal ini, jarak Gresik-Bawean sejauh 80 mil yang sebelumnya ditempuh delapan jam bisa dipersingkat menjadi tiga jam perjalanan laut.
Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Gresik Sentot Supriyohadi, Rabu (17/5), menjelaskan, pelayaran pertama akan dilaksanakan 27 Mei mendatang. Kapal tersebut selanjutnya akan dioperasikan setiap Rabu pukul 09.00 dan Sabtu pukul 09.00 dari Gresik ke Bawean. Adapun perjalanan dari Bawean ke Gresik dilaksanakan Kamis pukul 09.00 dan Minggu pukul 09.00.
Menurut Supriyohadi, keberadaan kapal tersebut diharapkan bisa menjawab kebutuhan masyarakat yang menginginkan perjalanan dari Gresik-Bawean dan sebaliknya dengan lebih cepat. "Keberadaan kapal baru diharapkan bisa meningkatkan mobilitas orang dan barang serta memacu kegiatan ekonomi masyarakat Bawean," kata Sentot.
Selama ini jalur Gresik-Bawean paling cepat ditempuh selama delapan jam dan kapal penumpang yang beroperasi hanya ada tiga, yakni KM Merak Ekspres, KM Tristar 9, dan KM Dharma Kartika.
Tarif Rp 130.000
Untuk sementara dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan pertama, setiap penumpang KM Express Bahari 8B kelas very important person (VIP) dikenai tarif Rp 130.000, sedangkan kelas ekonomi Rp 100.000. Kapal ini berukuran panjang 34,26 meter, lebar 5,8 meter dan tinggi 3,8 meter itu dilengkapi dengan 229 tempat duduk ekonomi, 35 tempat duduk VIP, dan 95 tempat duduk standar. Kapal ini dikelola PT pelayaran Sakti Inti Makmur. Ketua Pemuda Bawean-Gresik Subki yang ditunjuk mewakili pemilik kapal Sukardi Halim menuturkan, semula ingin mengoperasikan kapal setiap hari. Namun, dengan pertimbangan kapal-kapal sebelumnya, akhirnya hanya dioperasikan dua kali seminggu. (ACI)
Sorotan
Senin, 26 April 2004
Isu Menjadi Kabupaten
ENTAH karena sudah merasa mampu berdiri sendiri atau bosan karena sering terabaikan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik, masyarakat Bawean beramai-ramai mengusung isu berpisah dari wilayah Gresik untuk menjadi kabupaten sendiri. Isu keinginan berpisah dari Kabupaten Gresik sebenarnya merupakan wacana lama yang digulirkan lagi sejak dibukanya keran pelaksanaan otonomi daerah oleh pemerintah pusat. Beberapa desakan tidak hanya datang dari tokoh masyarakat Bawean, tetapi juga kalangan pemuda di sana.
Segenap upaya telah dilakukan, seperti mengundang secara khusus sejumlah pejabat Pemerintah Kota Batu untuk audiensi soal seputar pemisahaan wilayah Batu dari Kabupaten Malang. Bahkan, belakangan ini juga sudah dibentuk tim kelompok kerja yang bernama Bawean Development Centre (BDC) yang terdiri dari beberapa elemen kelompok masyarakat.
Salah satu tujuan utama pembentukan BDC tersebut adalah mempersiapkan Bawean untuk berdiri sendiri menjadi kabupaten yang terpisah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dalam kurun waktu lima sampai tujuh tahun ke depan. "Pembentukan BDC ini murni dari aspirasi masyarakat sebagai wadah yang memprakarsai dalam hal pencapaian tujuan utama, yakni berdirinya wilayah Bawean yang terpisah dari Pemerintahan Kabupaten Gresik," kata Sekretaris BDC Hazin Suyuti.
Sementara acuan yang mendorong hal tersebut adalah lemahnya pelayanan birokrasi Pemerintah Kabupaten Gresik yang menyebabkan wilayah Pulau Bawean tidak tersentuh pengembangan secara maksimal. Pembangunan di Bawean berjalan lambat meski potensi yang bisa digali cukup besar. Sampai saat ini masyarakat Bawean belum merasakan manfaat pembangunan memadai yang dilakukan Pemkab Gresik. Wilayah Bawean seperti masih dianaktirikan.
SEBAGAI tahap awal, untuk mencapai tujuan Bawean berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten, pemekaran wilayah Bawean mulai dari tingkat desa sampai tingkat kecamatan mutlak dilakukan. Pulau Bawean yang memiliki luas sekitar 194,11 kilometer dengan jumlah penduduk 69.539 orang ini baru terdiri dari dua kecamatan, yakni Sangkapura dan Tambak.
Dengan pemekaran wilayah, pengelolaan potensi daerah bisa lebih mudah dan maksimal dilakukan. Pelayanan birokrasi pun akan lebih mudah dikerjakan.
Meski untuk mencapai tujuan tersebut tidak mudah, BDC tetap optimistis bisa melakukan. Besarnya potensi alam yang dimiliki Bawean serta posisi Pulau Bawean yang berada di antara Pulau Jawa dan Kalimantan adalah modal besar yang dimiliki Bawean. "Bawean akan menjadi pusat transit pelayaran antara Jawa dan Kalimantan. Apalagi, jika nantinya pembangunan lapangan terbang perintis siap dilaksanakan, semakin membuka wilayah Bawean dengan daerah lain," kata Hazin.
Bercermin kepada wilayah Kota Batu yang hanya memiliki gunung, wilayah Bawean tentunya mempunyai prospektif yang lebih bagus apalagi juga jika didukung sumber daya manusia yang mumpuni. Soal sumber daya manusia, menurut Hazin, BDC sendiri sudah mengumpulkan data-data masyarakat Bawean yang saat ini sedang sekolah di berbagai universitas di Jawa atau luar negeri. "Sebagian besar dari mereka sudah menyatakan komitmennya untuk kembali ke Bawean jika memang diperlukan," kata Hazin.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik asal Bawean Ali Dhofir menilai, isu Bawean menjadi Kabupaten merupakan suatu cita-cita yang sangat baik, terutama untuk pengembangan potensi daerah dan masyarakat ke depan. Namun, menurut dia, hal itu masih terlalu dini karena untuk berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten tidak hanya cukup mengandalkan modal potensi alam saja.
"Bawean masih memerlukan sentuhan-sentuhan pembangunan infrastruktur dari pemerintah kabupaten. Bawean juga belum mampu menanggung beban pembangunan jika hanya mengharapkan pendapatan asli daerahnya. Belum lagi biaya-biaya untuk gaji pegawai negeri. Sebagai gambaran, penghasilan Pajak Bumi Bangunan Bawean saja hanya Rp 400 juta per tahun, tentunya hal itu belum bisa diandalkan," kata Ali.
Tetapi, menurut Ali, bukan berarti hal itu menutup kemungkinan Bawean tidak bisa berdiri sendiri. Suatu saat, jika daerah Bawean sudah lebih terbuka dan kemampuan sumber pendapatan daerah sudah lebih besar, hal itu baru bisa terlaksana. Karena itu, dia berharap banyak kepada masyarakat Bawean yang sudah sukses di daerah perantauan untuk turut berpartisipasi membangun Bawean dengan cara menanamkan investasinya.
Sejauh ini Pemkab Gresik sendiri belum menanggapi secara serius soal isu Bawean menjadi kabupaten yang terpisah dari Gresik. Sementara mengenai rencana pengembangan ekonomi di wilayah Bawean, sampai sejauh ini Pemkab Gresik baru melihat dari segi potensi pariwisatanya. "Kami akui bahwa pengembangan potensi Pulau Bawean masih sulit dilakukan. Sejauh ini baru dari sisi pariwisata yang akan kami upayakan untuk ditonjolkan meski hal itu pun kenyataannya masih sulit karena membutuhkan investasi yang besar serta promosi yang gencar, " kata Kepala Bidang Ekonomi Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Gresik Agus Budiono.(OTW)
Gresik, Kompas - Kapal Motor Cepat Express Bahari 8B dengan kapasitas 359 penumpang dioperasikan dari Gresik-Bawean dua kali pergi pulang setiap minggu. Dengan dioperasikannya kapal ini, jarak Gresik-Bawean sejauh 80 mil yang sebelumnya ditempuh delapan jam bisa dipersingkat menjadi tiga jam perjalanan laut.
Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Gresik Sentot Supriyohadi, Rabu (17/5), menjelaskan, pelayaran pertama akan dilaksanakan 27 Mei mendatang. Kapal tersebut selanjutnya akan dioperasikan setiap Rabu pukul 09.00 dan Sabtu pukul 09.00 dari Gresik ke Bawean. Adapun perjalanan dari Bawean ke Gresik dilaksanakan Kamis pukul 09.00 dan Minggu pukul 09.00.
Menurut Supriyohadi, keberadaan kapal tersebut diharapkan bisa menjawab kebutuhan masyarakat yang menginginkan perjalanan dari Gresik-Bawean dan sebaliknya dengan lebih cepat. "Keberadaan kapal baru diharapkan bisa meningkatkan mobilitas orang dan barang serta memacu kegiatan ekonomi masyarakat Bawean," kata Sentot.
Selama ini jalur Gresik-Bawean paling cepat ditempuh selama delapan jam dan kapal penumpang yang beroperasi hanya ada tiga, yakni KM Merak Ekspres, KM Tristar 9, dan KM Dharma Kartika.
Tarif Rp 130.000
Untuk sementara dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan pertama, setiap penumpang KM Express Bahari 8B kelas very important person (VIP) dikenai tarif Rp 130.000, sedangkan kelas ekonomi Rp 100.000. Kapal ini berukuran panjang 34,26 meter, lebar 5,8 meter dan tinggi 3,8 meter itu dilengkapi dengan 229 tempat duduk ekonomi, 35 tempat duduk VIP, dan 95 tempat duduk standar. Kapal ini dikelola PT pelayaran Sakti Inti Makmur. Ketua Pemuda Bawean-Gresik Subki yang ditunjuk mewakili pemilik kapal Sukardi Halim menuturkan, semula ingin mengoperasikan kapal setiap hari. Namun, dengan pertimbangan kapal-kapal sebelumnya, akhirnya hanya dioperasikan dua kali seminggu. (ACI)
Sorotan
Senin, 26 April 2004
Isu Menjadi Kabupaten
ENTAH karena sudah merasa mampu berdiri sendiri atau bosan karena sering terabaikan oleh Pemerintah Kabupaten Gresik, masyarakat Bawean beramai-ramai mengusung isu berpisah dari wilayah Gresik untuk menjadi kabupaten sendiri. Isu keinginan berpisah dari Kabupaten Gresik sebenarnya merupakan wacana lama yang digulirkan lagi sejak dibukanya keran pelaksanaan otonomi daerah oleh pemerintah pusat. Beberapa desakan tidak hanya datang dari tokoh masyarakat Bawean, tetapi juga kalangan pemuda di sana.
Segenap upaya telah dilakukan, seperti mengundang secara khusus sejumlah pejabat Pemerintah Kota Batu untuk audiensi soal seputar pemisahaan wilayah Batu dari Kabupaten Malang. Bahkan, belakangan ini juga sudah dibentuk tim kelompok kerja yang bernama Bawean Development Centre (BDC) yang terdiri dari beberapa elemen kelompok masyarakat.
Salah satu tujuan utama pembentukan BDC tersebut adalah mempersiapkan Bawean untuk berdiri sendiri menjadi kabupaten yang terpisah dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dalam kurun waktu lima sampai tujuh tahun ke depan. "Pembentukan BDC ini murni dari aspirasi masyarakat sebagai wadah yang memprakarsai dalam hal pencapaian tujuan utama, yakni berdirinya wilayah Bawean yang terpisah dari Pemerintahan Kabupaten Gresik," kata Sekretaris BDC Hazin Suyuti.
Sementara acuan yang mendorong hal tersebut adalah lemahnya pelayanan birokrasi Pemerintah Kabupaten Gresik yang menyebabkan wilayah Pulau Bawean tidak tersentuh pengembangan secara maksimal. Pembangunan di Bawean berjalan lambat meski potensi yang bisa digali cukup besar. Sampai saat ini masyarakat Bawean belum merasakan manfaat pembangunan memadai yang dilakukan Pemkab Gresik. Wilayah Bawean seperti masih dianaktirikan.
SEBAGAI tahap awal, untuk mencapai tujuan Bawean berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten, pemekaran wilayah Bawean mulai dari tingkat desa sampai tingkat kecamatan mutlak dilakukan. Pulau Bawean yang memiliki luas sekitar 194,11 kilometer dengan jumlah penduduk 69.539 orang ini baru terdiri dari dua kecamatan, yakni Sangkapura dan Tambak.
Dengan pemekaran wilayah, pengelolaan potensi daerah bisa lebih mudah dan maksimal dilakukan. Pelayanan birokrasi pun akan lebih mudah dikerjakan.
Meski untuk mencapai tujuan tersebut tidak mudah, BDC tetap optimistis bisa melakukan. Besarnya potensi alam yang dimiliki Bawean serta posisi Pulau Bawean yang berada di antara Pulau Jawa dan Kalimantan adalah modal besar yang dimiliki Bawean. "Bawean akan menjadi pusat transit pelayaran antara Jawa dan Kalimantan. Apalagi, jika nantinya pembangunan lapangan terbang perintis siap dilaksanakan, semakin membuka wilayah Bawean dengan daerah lain," kata Hazin.
Bercermin kepada wilayah Kota Batu yang hanya memiliki gunung, wilayah Bawean tentunya mempunyai prospektif yang lebih bagus apalagi juga jika didukung sumber daya manusia yang mumpuni. Soal sumber daya manusia, menurut Hazin, BDC sendiri sudah mengumpulkan data-data masyarakat Bawean yang saat ini sedang sekolah di berbagai universitas di Jawa atau luar negeri. "Sebagian besar dari mereka sudah menyatakan komitmennya untuk kembali ke Bawean jika memang diperlukan," kata Hazin.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik asal Bawean Ali Dhofir menilai, isu Bawean menjadi Kabupaten merupakan suatu cita-cita yang sangat baik, terutama untuk pengembangan potensi daerah dan masyarakat ke depan. Namun, menurut dia, hal itu masih terlalu dini karena untuk berdiri sendiri menjadi sebuah kabupaten tidak hanya cukup mengandalkan modal potensi alam saja.
"Bawean masih memerlukan sentuhan-sentuhan pembangunan infrastruktur dari pemerintah kabupaten. Bawean juga belum mampu menanggung beban pembangunan jika hanya mengharapkan pendapatan asli daerahnya. Belum lagi biaya-biaya untuk gaji pegawai negeri. Sebagai gambaran, penghasilan Pajak Bumi Bangunan Bawean saja hanya Rp 400 juta per tahun, tentunya hal itu belum bisa diandalkan," kata Ali.
Tetapi, menurut Ali, bukan berarti hal itu menutup kemungkinan Bawean tidak bisa berdiri sendiri. Suatu saat, jika daerah Bawean sudah lebih terbuka dan kemampuan sumber pendapatan daerah sudah lebih besar, hal itu baru bisa terlaksana. Karena itu, dia berharap banyak kepada masyarakat Bawean yang sudah sukses di daerah perantauan untuk turut berpartisipasi membangun Bawean dengan cara menanamkan investasinya.
Sejauh ini Pemkab Gresik sendiri belum menanggapi secara serius soal isu Bawean menjadi kabupaten yang terpisah dari Gresik. Sementara mengenai rencana pengembangan ekonomi di wilayah Bawean, sampai sejauh ini Pemkab Gresik baru melihat dari segi potensi pariwisatanya. "Kami akui bahwa pengembangan potensi Pulau Bawean masih sulit dilakukan. Sejauh ini baru dari sisi pariwisata yang akan kami upayakan untuk ditonjolkan meski hal itu pun kenyataannya masih sulit karena membutuhkan investasi yang besar serta promosi yang gencar, " kata Kepala Bidang Ekonomi Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Gresik Agus Budiono.(OTW)
Sorotan
Senin, 26 April 2004
Masyarakat Bawean
Senin, 26 April 2004
Masyarakat Bawean
Penduduk Pulau yang Terpencil
MENYEBUT Bawean, bayangan orang pasti akan langsung tertuju pada sebuah peristiwa berlayarnya kapal induk Destroyer dan Frigate, serta manuver pesawat F-18 milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Peristiwa yang sempat menghebohkan itu terjadi pada pertengahan bulan Juli 2003.
SEBELUM peristiwa itu, nama Bawean terasa asing dan mungkin hanya sedikit orang yang tahu tentang pulau yang berpenduduk 69.538 orang itu. Kalau tidak melihat peta, orang juga mungkin tak akan pernah tahu di mana Pulau Bawean itu berada.
Secara administratif, Pulau Bawean merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pulau ini terletak di sebelah utara Kabupaten Gresik dan berjarak sekitar 80 mil laut atau sekitar 156 kilometer.
Luas Pulau Bawean sekitar 194,11 kilometer persegi dan terdiri atas dua kecamatan, yakni Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Di sekitarnya juga terdapat beberapa pulau kecil, seperti di sebelah timur dan barat Pulau Bawean.
Di sebelah timur terdapat Pulau Gili, Noko, Selayar, dan Telur, sedangkan di sebelah barat terdapat Pulau Batu Kerbau, Karang Bilah, Tanjung Cina, dan Pulau Nusa. Dari pulau- pulau kecil yang berada di sekitar Pulau Bawean itu, hanya Pulau Gili, yang dihuni sekitar 700 orang, yang jaraknya sekitar dua mil atau 30 menit dari pantai timur Pulau Bawean.
Untuk mencapai Pulau Bawean, satu-satunya transportasi yang digunakan adalah kapal laut yang berangkat dari Pelabuhan Gresik. Sebelum ada kapal cepat penumpang milik PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) yang melayani rute Gresik-Bawean setiap hari Rabu dan Sabtu, transportasi hanya dilayani kapal malam yang memakan waktu perjalanan selama delapan hingga 10 jam.
Hingga kini, kapal malam, yang sebenarnya merupakan kapal barang dan tidak dirancang untuk penumpang, menjadi transportasi utama karena berlayar hampir setiap hari. Apalagi kapal cepat milik PT ASDP yang mampu menempuh waktu perjalanan ke Bawean sekitar tiga jam itu sudah tidak melayani rute Gresik-Bawean lagi.
Menurut cerita orang-orang tua di Bawean, di pulau ini terdapat sekitar 99 bukit dan di antara bukit tersebut, yang paling tinggi adalah Bukit Besar, yang terlihat jelas dari Dermaga Sangkapura, yang menjadi pintu gerbang Pulau Bawean.
Mengenai sejarah asal usul Bawean, sampai saat ini belum ditemukan catatan pasti tentang sejarahnya. Namun, ada beberapa versi cerita yang berkembang yang menuturkan sedikit sejarah Pulau Bawean ini.
Menurut beberapa kitab kuno berbahasa Arab yang masih dimiliki oleh beberapa sesepuh di Bawean, Pulau Bawean dulunya disebut Pulau Majedi, yang berasal dari bahasa Arab, artinya mata uang. Disebut demikian karena Pulau Bawean bentuknya nyaris bulat, seperti mata uang logam.
Kisah lainnya menyebutkan, pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit, dalam rangka menyatukan Nusantara, ketika itu Majapahit banyak mengirimkan armadanya ke daerah seberang. Karena terkena terjangan badai lautan yang ganas, salah satu armadanya terombang- ambing selama beberapa hari dan mengalami keputusasaan untuk dapat hidup.
Namun, di tengah keputusasaan tersebut, tiba-tiba salah seorang anggota armada itu terkejut ketika di ufuk timur terlihat matahari muncul di balik gugus daratan. Secara spontan, seorang anggota armada itu menyebutkan kata ba-we-an, yang artinya ada sinar matahari. Gugus daratan yang ternyata sebuah pulau kecil itu kemudian diberi nama Bawean.
Ada juga sebuah catatan yang menjelaskan bahwa sampai tahun 1743 Pulau Bawean berada di bawah kekuasaan Madura. Raja Madura terakhir adalah Tjakaningrat IV dari Bangkalan. Setelah itu, pada tahun yang sama, VOC menduduki pulau ini sekaligus mengendalikan pemerintahan di Pulau Bawean.
Kemudian sesudah pulihnya pemerintahan sementara oleh Inggris, Pulau Bawean menjadi keasistenredinan yang terpisah di Surabaya, lalu digabungkan dengan wilayah Gresik di bawah seorang pengawas, dan sejak tahun 1920 sampai 1965 menjadi kewedanan.
Sejak tahun 1965, pulau ini diperintah oleh dua camat di bawah pengawasan bupati Surabaya. Setelah Gresik pisah dari Surabaya pada tahun 1975, Pulau Bawean kemudian masuk ke wilayah Gresik sampai sekarang.
PENGARUH Madura sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Bawean, terutama dari bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat. Penduduk Bawean memang sebagian besar berasal dari Madura, tetapi lama kelamaan terbentuk kebudayaan baru yang terpisah dari Madura karena mulai masuknya beberapa pendatang dari daerah lain.
Itu pula sebabnya orang Bawean tidak mau disebut sebagai orang Madura meski generasi terdahulu mereka berasal dari Madura. "Bawean, ya Bawean. Madura, ya Madura. Jadi, orang Bawean bukan orang Madura," kata Ali Dhofir, salah satu tokoh masyarakat Pulau Bawean yang juga anggota DPRD Gresik.
Pengaruh Madura memang sangat kental. Meski demikian, ada juga pengaruh kelompok penduduk lain yang sejak lama tinggal di Bawean. Mereka adalah penduduk dari Sulawesi dan nelayan Bugis yang selalu mencari ikan di sekitar Pulau Bawean. Bahkan, di sebelah utara Pulau Bawean, sebagian besar penduduknya berasal dari Pulau Jawa dan berbahasa Jawa. Mereka tinggal di sebuah perkampungan di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak.
Selain itu, ada juga pedagang yang berasal dari Palembang, yang dikenal oleh orang Bawean dengan sebutan penduduk Kemas. Menurut cerita beberapa tokoh masyarakat Bawean, dahulu penduduk Kemas adalah pengusaha-pengusaha kaya di Bawean.
"Dulu mereka dikenal sebagai pengusaha-pengusaha yang kaya di Bawean, tetapi sekarang sudah tidak terlalu banyak. Sekarang ini, yang lebih kaya justru masyarakat Bawean yang sebagian besar bekerja di Malaysia dan Singapura," kata Ali.
Karena hampir sebagian besar kaum laki-lakinya merantau, penduduk yang tinggal di Pulau Bawean akhirnya lebih didominasi kaum wanita dan anak-anak. Hal itu juga yang menyebabkan Pulau Bawean disebut sebagai Pulau Putri.
Kalaupun ada kaum laki-laki, mereka adalah para orang tua atau penduduk Bawean keturunan Jawa yang bekerja mecari ikan atau bercocok tanam padi. Kebanyakan orang Bawean, setelah sukses merantau, mereka akan memboyong keluarganya meninggalkan Bawean. Di daerah perantauan, mereka membuat suatu komunitas dan tinggal di sebuah kampung yang diberi nama Kampung Boyan. (Gatot Widakdo)
MENYEBUT Bawean, bayangan orang pasti akan langsung tertuju pada sebuah peristiwa berlayarnya kapal induk Destroyer dan Frigate, serta manuver pesawat F-18 milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Peristiwa yang sempat menghebohkan itu terjadi pada pertengahan bulan Juli 2003.
SEBELUM peristiwa itu, nama Bawean terasa asing dan mungkin hanya sedikit orang yang tahu tentang pulau yang berpenduduk 69.538 orang itu. Kalau tidak melihat peta, orang juga mungkin tak akan pernah tahu di mana Pulau Bawean itu berada.
Secara administratif, Pulau Bawean merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Pulau ini terletak di sebelah utara Kabupaten Gresik dan berjarak sekitar 80 mil laut atau sekitar 156 kilometer.
Luas Pulau Bawean sekitar 194,11 kilometer persegi dan terdiri atas dua kecamatan, yakni Kecamatan Sangkapura dan Tambak. Di sekitarnya juga terdapat beberapa pulau kecil, seperti di sebelah timur dan barat Pulau Bawean.
Di sebelah timur terdapat Pulau Gili, Noko, Selayar, dan Telur, sedangkan di sebelah barat terdapat Pulau Batu Kerbau, Karang Bilah, Tanjung Cina, dan Pulau Nusa. Dari pulau- pulau kecil yang berada di sekitar Pulau Bawean itu, hanya Pulau Gili, yang dihuni sekitar 700 orang, yang jaraknya sekitar dua mil atau 30 menit dari pantai timur Pulau Bawean.
Untuk mencapai Pulau Bawean, satu-satunya transportasi yang digunakan adalah kapal laut yang berangkat dari Pelabuhan Gresik. Sebelum ada kapal cepat penumpang milik PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) yang melayani rute Gresik-Bawean setiap hari Rabu dan Sabtu, transportasi hanya dilayani kapal malam yang memakan waktu perjalanan selama delapan hingga 10 jam.
Hingga kini, kapal malam, yang sebenarnya merupakan kapal barang dan tidak dirancang untuk penumpang, menjadi transportasi utama karena berlayar hampir setiap hari. Apalagi kapal cepat milik PT ASDP yang mampu menempuh waktu perjalanan ke Bawean sekitar tiga jam itu sudah tidak melayani rute Gresik-Bawean lagi.
Menurut cerita orang-orang tua di Bawean, di pulau ini terdapat sekitar 99 bukit dan di antara bukit tersebut, yang paling tinggi adalah Bukit Besar, yang terlihat jelas dari Dermaga Sangkapura, yang menjadi pintu gerbang Pulau Bawean.
Mengenai sejarah asal usul Bawean, sampai saat ini belum ditemukan catatan pasti tentang sejarahnya. Namun, ada beberapa versi cerita yang berkembang yang menuturkan sedikit sejarah Pulau Bawean ini.
Menurut beberapa kitab kuno berbahasa Arab yang masih dimiliki oleh beberapa sesepuh di Bawean, Pulau Bawean dulunya disebut Pulau Majedi, yang berasal dari bahasa Arab, artinya mata uang. Disebut demikian karena Pulau Bawean bentuknya nyaris bulat, seperti mata uang logam.
Kisah lainnya menyebutkan, pada zaman kejayaan Kerajaan Majapahit, dalam rangka menyatukan Nusantara, ketika itu Majapahit banyak mengirimkan armadanya ke daerah seberang. Karena terkena terjangan badai lautan yang ganas, salah satu armadanya terombang- ambing selama beberapa hari dan mengalami keputusasaan untuk dapat hidup.
Namun, di tengah keputusasaan tersebut, tiba-tiba salah seorang anggota armada itu terkejut ketika di ufuk timur terlihat matahari muncul di balik gugus daratan. Secara spontan, seorang anggota armada itu menyebutkan kata ba-we-an, yang artinya ada sinar matahari. Gugus daratan yang ternyata sebuah pulau kecil itu kemudian diberi nama Bawean.
Ada juga sebuah catatan yang menjelaskan bahwa sampai tahun 1743 Pulau Bawean berada di bawah kekuasaan Madura. Raja Madura terakhir adalah Tjakaningrat IV dari Bangkalan. Setelah itu, pada tahun yang sama, VOC menduduki pulau ini sekaligus mengendalikan pemerintahan di Pulau Bawean.
Kemudian sesudah pulihnya pemerintahan sementara oleh Inggris, Pulau Bawean menjadi keasistenredinan yang terpisah di Surabaya, lalu digabungkan dengan wilayah Gresik di bawah seorang pengawas, dan sejak tahun 1920 sampai 1965 menjadi kewedanan.
Sejak tahun 1965, pulau ini diperintah oleh dua camat di bawah pengawasan bupati Surabaya. Setelah Gresik pisah dari Surabaya pada tahun 1975, Pulau Bawean kemudian masuk ke wilayah Gresik sampai sekarang.
PENGARUH Madura sangat melekat dalam kehidupan masyarakat Bawean, terutama dari bahasa sehari-hari yang digunakan masyarakat. Penduduk Bawean memang sebagian besar berasal dari Madura, tetapi lama kelamaan terbentuk kebudayaan baru yang terpisah dari Madura karena mulai masuknya beberapa pendatang dari daerah lain.
Itu pula sebabnya orang Bawean tidak mau disebut sebagai orang Madura meski generasi terdahulu mereka berasal dari Madura. "Bawean, ya Bawean. Madura, ya Madura. Jadi, orang Bawean bukan orang Madura," kata Ali Dhofir, salah satu tokoh masyarakat Pulau Bawean yang juga anggota DPRD Gresik.
Pengaruh Madura memang sangat kental. Meski demikian, ada juga pengaruh kelompok penduduk lain yang sejak lama tinggal di Bawean. Mereka adalah penduduk dari Sulawesi dan nelayan Bugis yang selalu mencari ikan di sekitar Pulau Bawean. Bahkan, di sebelah utara Pulau Bawean, sebagian besar penduduknya berasal dari Pulau Jawa dan berbahasa Jawa. Mereka tinggal di sebuah perkampungan di Desa Diponggo, Kecamatan Tambak.
Selain itu, ada juga pedagang yang berasal dari Palembang, yang dikenal oleh orang Bawean dengan sebutan penduduk Kemas. Menurut cerita beberapa tokoh masyarakat Bawean, dahulu penduduk Kemas adalah pengusaha-pengusaha kaya di Bawean.
"Dulu mereka dikenal sebagai pengusaha-pengusaha yang kaya di Bawean, tetapi sekarang sudah tidak terlalu banyak. Sekarang ini, yang lebih kaya justru masyarakat Bawean yang sebagian besar bekerja di Malaysia dan Singapura," kata Ali.
Karena hampir sebagian besar kaum laki-lakinya merantau, penduduk yang tinggal di Pulau Bawean akhirnya lebih didominasi kaum wanita dan anak-anak. Hal itu juga yang menyebabkan Pulau Bawean disebut sebagai Pulau Putri.
Kalaupun ada kaum laki-laki, mereka adalah para orang tua atau penduduk Bawean keturunan Jawa yang bekerja mecari ikan atau bercocok tanam padi. Kebanyakan orang Bawean, setelah sukses merantau, mereka akan memboyong keluarganya meninggalkan Bawean. Di daerah perantauan, mereka membuat suatu komunitas dan tinggal di sebuah kampung yang diberi nama Kampung Boyan. (Gatot Widakdo)
Sorotan
Senin, 26 April 2004
Ekonomi Bawean di Tangan Perantau
DI suatu tengah malam, di ujung Dermaga Sangkapura, tampak sekelompok orang pembawa gerobak berlari-lari berlomba mendekati dermaga. Ketika itu, kapal malam baru saja bersandar di dermaga setelah berlayar selama sembilan jam dari Pelabuhan Gresik.
Para pembawa gerobak yang menawarkan jasa angkut barang itu pun terus bergerak cepat melompati dermaga dan masuk ke kapal "menjemput" para penumpang yang belum sempat turun dari kapal. Hanya dalam waktu singkat, para penawar jasa angkut pun sudah berhasil mendapatkan pengguna jasanya, yakni penumpang kapal.
Beberapa barang kemudian diangkut ke dalam gerobak dengan disusun rapi. Sementara pengguna jasanya meninggalkan dermaga terlebih dahulu dengan mengojek sepeda motor dan menunggu di kantor pelabuhan yang jaraknya sekitar satu kilometer dari ujung dermaga.
Di antara sekian banyak penumpang kapal malam tersebut, tampak seorang laki-laki dengan penampilan biasa yang baru saja tiba dari Malaysia. Laki-laki setengah baya yang bernama Ismail tersebut sengaja pulang ke Bawean untuk menengok keluarganya setelah satu tahun bekerja di Malaysia.
"Ya, paling-paling di sini cuma satu minggu. Setelah itu saya berangkat lagi ke Malaysia karena harus melanjutkan kerja di sana. Biar satu minggu, cukup untuk lepas kangen sama anak dan istri," ujar Ismail.
Seperti halnya Ismail, sudah hampir sebagian besar kaum laki-laki di Bawean adalah pekerja perantau yang sudah bertahun-tahun tinggal di Malaysia atau Singapura. Meski di tanah rantau mereka hanya bekerja sebagai tenaga kasar, seperti kuli bangunan atau buruh angkut, tetapi upah mereka sudah cukup untuk dijadikan tumpuan dalam menghidupi keluarga mereka di Bawean.
Tidak dimungkiri bahwa Pulau Bawean sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang cukup besar. Sebagai daerah kepulauan, Bawean memiliki potensi kelautan dan perikanan yang cukup besar. Lahan pertanian Pulau Bawean yang subur juga merupakan potensi alam yang seharusnya bisa dimanfaatkan.
Namun, karena pola pikir masyarakat Bawean yang sederhana dan praktis dalam memandang potensi alamnya, semua potensi itu tidak bisa dijadikan lahan bisnis dan ekonomi yang produktif. Masyarakat Bawean lebih memilih hidup merantau bekerja di Malaysia atau Singapura daripada menggarap daerahnya.
"Suka atau tidak, masyarakat Bawean sendiri memang tidak bisa disalahkan dalam hal itu. Sebab, dari realitas hidup, seperti nelayan, mereka memang tetap tidak bisa secara maksimal mendapatkan hasil yang diinginkan. Meski para nelayan dalam kesehariannya sudah berjuang menghadapi kerasnya kehidupan laut untuk mencari ikan, pendapatan mereka tetap rendah karena perimbangan harga dengan pendapatan yang tidak jauh berbeda," kata Kepala Bidang Ekonomi Badan Pengembangan Daerah Kabupaten Gresik Agus Budiono.
Akibatnya, masyarakat Bawean lebih memilih merantau dengan ukuran dan pertimbangan yang sangat sederhana dan pragmatis. Bekerja di Malaysia hari ini, hasilnya juga diperoleh hari ini.
Namun, sepertinya mereka lupa bahwa nilai tukar ekonomi tidak bisa serta merta dan dengan cara berpikir seperti itu. Akibat cara berpikir demikian, mereka lalu kehilangan nilai tukar yang lain, yaitu kekayaan yang ada di Pulau Bawean.
Bukan hal aneh jika lahan pertanian di Bawean lebih banyak digarap oleh masyarakat pendatang dari Pulau Jawa. Itu pun hasil panen padi tidak dijual ke pasar di Bawean, tetapi hanya untuk keperluan dan konsumsi sendiri. Tidak heran, jika untuk kebutuhan beras dan sayur, masyarakat Bawean harus mendatangkan dari Jawa.
Demikian juga dengan potensi alam lainnya seperti batu onyx yang keberadaannya sangat melimpah di Pulau Bawean. Dari puluhan ribu penduduk Bawean, hanya terdapat tiga pusat kerajinan batu onyx di Bawean. Itu pun tidak semua perajinnya orang Bawean. Dari sepuluh orang perajin, hanya satu orang yang asli penduduk Bawean. Sembilan perajin lainnya di datangkan dari Tulungagung.
Di satu sisi, bantuan Pemerintah Kabupaten Gresik sendiri masih dirasakan kurang dalam peningkatan dan pengembangan ekonomi bisnis, pembangunan, dan potensi alam Bawaen. Seperti halnya pembangunan jalan desa, gedung sekolah, dan tempat ibadah, hal itu lebih banyak dilakukan secara swadaya, patungan beberapa masyarakat Bawean yang bekerja di Malaysia dan Singapura.
BEGITU juga dengan pengembangan obyek wisata seperti Danau Kastoba. Keberadaan danau yang terletak di atas gunung tersebut sama sekali belum tersentuh penyediaan fasilitas kenyamanan bagi pengunjungnya, yang secara tidak langsung dapat menumbuhkan kegiatan ekonomi masyarakat desa.
Walau sudah ada jalan setapak yang dibangun untuk membantu pengunjung sampai pada lokasi, belumlah cukup dijadikan acuan sebagai pengembangan sektor wisata. Ditambah lagi promosi yang kurang gencar sehingga sampai saat ini yang lebih sering terdengar adalah cerita-cerita seram dan keangkeran Danau Kastoba dibandingkan dengan keindahan yang ditawarkan alamnya.
Demikian halnya dengan potensi keindahan terumbu karang di Pulau Gili, belum banyak orang yang tahu. Tidak adanya dermaga di Pulau Gil-yang terletak di sebelah timur Pulau Bawean itu-menyulitkan pengunjung yang ingin datang.
Meminjam istilah orang Bawean, pembangunan dan laju perekonomian di Bawean itu seperti la enjhe-enjhe bhei, yang artinya seperti jalan di tempat atau tidak bergerak maju. Kondisi obyektif ekonomi masyarakat Bawean merupakan salah satu efek dari orientasi kerja masyarakat Bawean ke luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura.
Kebiasaan keluarga yang ditinggal bekerja di luar negeri dengan menerima kiriman bulanan berakibat melemahnya etos kerja mereka untuk mengelola dan memproduksi potensi daerah.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Gresik asal Bawean Ali Dhofir mengungkapkan, pola perekonomian di Bawean adalah pola perekonomian yang bersifat temporer. Seperti yang terjadi pada tradisi merantau masyarakat Bawean yang tidak lebih sifatnya temporer.
Para perantau tidak mengalokasikan dana dari hasil merantau untuk membuka peluang bisnis jangka panjang. Hasil yang diperoleh dari perantauan tidak dikembangkan pada bentuk bisnis lain yang lebih produktif di Bawean. “Parahnya budaya konsumtif masyarakat Bawean sangat tinggi," kata Ali.
Namun, diakuinya perekonomian di Bawean memang masih sangat bergantung dari masyarakat Bawean yang bekerja di perantauan. Mereka tidak saja mampu menghidupi keluarganya yang tinggal di Bawean, tetapi juga memberi kontribusi pemasukan devisa yang cukup besar bagi negera.
Tidak bisa dibayangkan berapa besar devisa yang masuk untuk negara, terutama ketika menjelang hari-hari besar, seperti hari raya Lebaran. Pada saat-saat seperti itu banyak perantau yang kembali ke Bawean atau mengirimkan uang kepada keluarganya. Uniknya, pengiriman uang tidak melalui bank, tetapi melalui jasa seseorang. (OTW)
Sorotan
Senin, 26 April 2004
Pilot Amerika Pun Singgah di Bawean
TEPAT pukul 12.00, Kapal Motor Melayani siap berangkat dari pelabuhan Gresik menuju Pulau Bawean. Di awal bulan April lalu, udara di pelabuhan Gresik terasa sangat menyengat. Matahari yang tak tertutup awan terus menyorot dengan sinarnya yang tajam, sementara badan menjadi gerah.
DI tengah udara yang gerah, puluhan penumpang Kapal Motor (KM) Melayani sudah berada di atas kapal, sedangkan beberapa penumpang lainnya masih ada yang antre memasuki ruangan kapal secara bergiliran.
Lima menit kemudian, kapten kapal membunyikan klakson, tanda kapal siap berangkat. Tak lama setelah itu, kapal buatan Jepang yang usianya sudah 20 tahun, mulai bergerak dengan perlahan meninggalkan dermaga pelabuhan Gresik.
Semilir angin laut tetap tak mampu menghilangkan rasa gerah. Bak sebuah perlombaan, para penumpang ramai-ramai mengipaskan wajahnya dengan kipas kertas atau benda lainnya yang bisa menghilangkan rasa gerah. Beberapa penumpang yang berada di ruang VIP kapal pun tak kuasa menahan gerah. Meski alat pendingin dinyalakan, tetap tak mampu mendinginkan ruang VIP kapal itu.
Meski cuaca cukup cerah dan gelombang laut tidak tinggi, tetap saja kapal tidak bisa dipacu dengan cepat. "Ya, maklum saja, Mas, namanya juga kapal tua. Paling cepat kita sampai di Bawean delapan jam lagi dengan kecepatan rata-rata 10 knot," ujar Nakhoda KM Melayani Jujuk Juwanto.
Setengah jam berlayar, posisi kapal masih berada di Selat Madura. Tampak cukup jelas kepulan asap pabrik dari beberapa industri yang berada di tepi perairan Gresik membubung ke udara. Meski berada di tengah-tengah selat Madura, aroma amoniak dari pabrik petrokimia di Gresik tetap tercium dan menyesakkan dada.
Satu jam kemudian, kapal sudah meninggalkan Selat Madura. Sekitar dua mil di depan tampak Pulau Jamuang yang berada di sebelah utara Selat Madura. Di Pulau Jamuang inilah terdapat menara pemantau lalu lintas perairan sekaligus pintu gerbang kapal-kapal yang datang atau pergi dari pelabuhan Gresik serta Tanjung Perak Surabaya melalui Selat Madura.
Selepas Pulau Jamuang, telepon seluler sudah tidak bisa difungsikan lagi karena tidak terjangkau sinyal. Pelayaran 80 mil laut menuju Bawean pun dimulai dengan mengarungi laut lepas.
Selain KM Melayani, rute pelayaran Gresik-Bawean juga dilayani beberapa kapal lainnya, seperti KM Reny, KM Tanjung Redep, KM Palangkaraya, dan KM Kumala Suri. Namun, kapal-kapal tersebut khusus melayani pelayaran pada malam hari. Itu sebabnya, kapal-kapal itu disebut kapal malam.
Berbeda dengan KM Melayani yang keberadaannya memang diperuntukkan untuk mengangkut penumpang, kapal-kapal malam merupakan kapal barang yang oleh Pemerintah Kabupaten Gresik diberikan dispensasi untuk juga mengangkut penumpang tidak lebih dari 150 orang.
Tak heran jika pelayanan penumpang jauh dari standar kelayakan karena mereka harus tidur berdesak-desakan bersebelahan dengan barang-barang yang diangkut, mulai dari sayur-sayuran, bahan-bahan pokok, alat-alat elektronik, atau kendaraan roda empat.
Kalaupun ada ruangan yang lebih "nyaman" di kapal malam itu adalah ruang awak kapal atau kapten kapal yang berukuran 2 x 2 meter yang dikomersialkan dengan keharusan memberikan biaya tambahan.
"Tapi orang Bawean sudah biasa dengan hal itu. Mereka tetap memilih kapal malam karena semalaman bisa tidur dan bangun lagi ketika kapal sudah sampai pada pagi hari. Tapi, bagi orang lain, mungkin lebih nyaman perjalanan siang karena bisa melihat perahu nelayan atau ikan lumba-lumba," kata Hepni, salah seorang calon anggota legislatif dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang kebetulan menumpang KM Melayani menuju Bawean.
Gerakan lumba-lumba yang mengikuti kapal memang satu-satunya hiburan yang menarik meski hanya sebentar. Setelah itu, suasana mulai membosankan lagi sampai akhirnya tampak bayangan Pulau Bawean dari kejauhan, setelah lima jam perjalanan. Kapal pun baru benar-benar merapat tiga jam kemudian di Dermaga Sangkapura yang merupakan pintu gerbang Pulau Bawean.
"Ya, beginilah kenyataan kehidupan masyarakat Bawean. Mau pulang ke Bawean atau ke Gresik saja harus menempuh perjalanan jauh delapan jam. Sudah lama masyarakat Bawean memimpikan adanya lapangan terbang sehingga waktu perjalanan jauh dengan kapal laut bisa dipangkas singkat," ujar Hepni.
Wacana pembangunan lapangan terbang di Pulau Bawean memang pernah ramai dimunculkan. Bahkan, pemerintah provinsi dan pemerintah pusat pernah mengirim tim untuk melakukan studi kelayakan pembangunan lapangan terbang di Desa Tanjung Ori, Kecamatan Tambak.
Kepala Bagian Pembangunan Fisik Sarana dan Prasarana, Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Gresik Bambang Isdianto menyebutkan, studi kelayakan memang sudah dilakukan pihak pemerintah provinsi. Pembangunan lapangan terbang di Bawean sendiri bukan hanya sebuah wacana karena pelaksanaan proyeknya sedang direncanakan.
"Pembangunan lapangan terbang di Bawean melibatkan kerja sama pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Pemerintah Kabupaten Gresik sendiri ikut berpartisipasi dengan menyediakan lahan sekitar 70 hektar, sedangkan biaya pembangunan dibebankan kepada pemerintah provinsi dan pusat," katanya.
Dijelaskan, adapun lapangan terbang yang dibangun adalah landasan untuk jenis kapal perintis dengan kapasitas penumpang 30-50 orang. Lokasinya sudah ditentukan di Desa Tanjung Ori, Kecamatan Tambak, dan diproyeksikan akan dimulai pada tahun 2005.
"Sebagai bagian dari masyarakat Bawean, saya akan merasa turut senang jika proyek itu terwujudkan. Bawean sedikit banyak akan terlepas dari isolasi dengan kehadiran lapangan terbang tersebut. Bahkan, saya yakin, kalau lapangan terbang itu sudah ada, pilot Amerika pun akan singgah di Bawean," ujar Hepni sambil terbahak. (OTW)
Jawa Timur
Rabu, 14 Mei 2003
Sidang Gugatan Kader PKB Tambak terhadap DPC PKB Gresik Ditunda
Gresik, Kompas - Sidang gugatan Kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tambak, Bawean, terhadap Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Gresik di Pengadilan Negeri (PN) Gresik ditunda. Persidangan tersebut ditunda karena kuasa hukum kader PKB Tambak Anwar Rachman mempertanyakan kapasitas kuasa hukum DPC PKB yang juga adalah anggota DPRD Gresik.
Anwar menanyakan hal itu sehubungan dengan sudah berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003. Pada Pasal 20 UU tersebut ditegaskan bahwa pejabat pemerintah tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai penasihat hukum.
Dua penasihat hukum dari DPC PKB Gresik, Hariyadi SH dan Zulvan Hasyim, mengaku belum mengetahui adanya UU tentang Advokasi tersebut. Oleh karena itu, majelis hakim terpaksa menunda persidangan hingga minggu depan.
DPC PKB digugat oleh kadernya dari Tambak Bawean, Abdul Azis Ismail. Menurut penggugat, terbitnya Surat Keputusan DPC PKB Gresik Nomor 0284/DPC/PKB/III/2002 yang menyatakan mengakui hasil musyawarah anak cabang yang memilih Abdul Hafids Halifi sebagai Ketua Dewan Tanfidzi bertentangan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai. Karena itu, pihak penggugat meminta DPC mencabut surat tersebut dan mengangkat penggugat sebagai Ketua Dewan Syuro sesuai hasil Musyawarah Anak Cabang PKB Tambak, Bawean.
Dalam persidangan itu Ketua Majelis Hakim Sugeng Riyono didampingi I Wayan Karya SH dan Anne Rusiana SH sebagai anggota. Penggugat diwakili penasihat hukumnya Anwar Rachman SH, sementara tergugat diwakili oleh lima penasihat hukum, di antaranya Hariyadi dan Zulvan Hasyim.
Beberapa saat setelah sidang dimulai, penasihat hukum tergugat dan penggugat diminta menyerahkan surat kuasanya. Penasihat hukum penggugat, Anwar Rachman, lalu meminta hakim ketua memeriksa status dua penasihat hukum tergugat, Hariyadi dan Zulvan Hasyim.
Majelis hakim langsung mengonfirmasi hal itu kepada kedua penasihat hukum tergugat. Hariyadi dan Zulvan mengakui mereka penasihat hukum tergugat. Mendengar jawaban ini, Anwar meminta hakim mempertanyakan status keduanya dengan merujuk UU tentang Advokasi. (OTW)
Rabu, 14 Mei 2003
Sidang Gugatan Kader PKB Tambak terhadap DPC PKB Gresik Ditunda
Gresik, Kompas - Sidang gugatan Kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Tambak, Bawean, terhadap Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Gresik di Pengadilan Negeri (PN) Gresik ditunda. Persidangan tersebut ditunda karena kuasa hukum kader PKB Tambak Anwar Rachman mempertanyakan kapasitas kuasa hukum DPC PKB yang juga adalah anggota DPRD Gresik.
Anwar menanyakan hal itu sehubungan dengan sudah berlakunya Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003. Pada Pasal 20 UU tersebut ditegaskan bahwa pejabat pemerintah tidak diperbolehkan merangkap jabatan sebagai penasihat hukum.
Dua penasihat hukum dari DPC PKB Gresik, Hariyadi SH dan Zulvan Hasyim, mengaku belum mengetahui adanya UU tentang Advokasi tersebut. Oleh karena itu, majelis hakim terpaksa menunda persidangan hingga minggu depan.
DPC PKB digugat oleh kadernya dari Tambak Bawean, Abdul Azis Ismail. Menurut penggugat, terbitnya Surat Keputusan DPC PKB Gresik Nomor 0284/DPC/PKB/III/2002 yang menyatakan mengakui hasil musyawarah anak cabang yang memilih Abdul Hafids Halifi sebagai Ketua Dewan Tanfidzi bertentangan dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga partai. Karena itu, pihak penggugat meminta DPC mencabut surat tersebut dan mengangkat penggugat sebagai Ketua Dewan Syuro sesuai hasil Musyawarah Anak Cabang PKB Tambak, Bawean.
Dalam persidangan itu Ketua Majelis Hakim Sugeng Riyono didampingi I Wayan Karya SH dan Anne Rusiana SH sebagai anggota. Penggugat diwakili penasihat hukumnya Anwar Rachman SH, sementara tergugat diwakili oleh lima penasihat hukum, di antaranya Hariyadi dan Zulvan Hasyim.
Beberapa saat setelah sidang dimulai, penasihat hukum tergugat dan penggugat diminta menyerahkan surat kuasanya. Penasihat hukum penggugat, Anwar Rachman, lalu meminta hakim ketua memeriksa status dua penasihat hukum tergugat, Hariyadi dan Zulvan Hasyim.
Majelis hakim langsung mengonfirmasi hal itu kepada kedua penasihat hukum tergugat. Hariyadi dan Zulvan mengakui mereka penasihat hukum tergugat. Mendengar jawaban ini, Anwar meminta hakim mempertanyakan status keduanya dengan merujuk UU tentang Advokasi. (OTW)
Jawa Timur
Selasa, 29 April 2003
Anshor Bawean Minta Batalkan Hasil Musancab Ulang PAC PKB Tambak
Gresik, Kompas - Gerakan Pemuda (GP) Anshor cabang Bawean meminta Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) membatalkan hasil musyawarah anak cabang (musancab) ulang Pengurus Anak Cabang (PAC) PKB Tambak. Selain dinilai cacat hukum, hasil musancab ulang itu juga telah menimbulkan ketidakharmonisan di tubuh PKB Bawean.
Demikian beberapa butir pernyataan Ketua GP Anshor Bawean Hanafi Saleh yang tertuang dalam surat gugatan yang disampaikan kepada Kompas di Gresik, Senin (28/4). Dalam surat itu juga disampaikan, keputusan DPC PKB Gresik yang menyetujui hasil musancab ulang merupakan tindakan yang tidak populer dan keliru.
DPC PKB telah memutuskan pengulangan Musancab PAC PKB Tambak karena forum itu mengalami deadlock dalam pemilihan Ketua Dewan Syura PAC PKB Tambak. Menurut Hanafi Saleh, ada beberapa kesalahan yuridis yang dilakukan DPC PKB Gresik. Pertama, secara sepihak DPC PKB membatalkan hasil Musancab PKB Tambak dan menunjuk pelaksana konferensi Musancab PKB ulang. Kedua, DPC PKB telah memecat secara sepihak KH Abdul Aziz Ismail yang sudah terpilih secara sah lewat musancab yang dipimpin oleh pengurus cabang sendiri.
Kesalahan ketiga, DPC PKB Gresik justru menunjuk KH Abdul Hafidz sebagai pejabat sementara setingkat Tanfidzi yang notabene merupakan rival Kiai Aziz dalam musancab.
Dengan adanya kesalahan-kesalahan itu pula, GP Ansor Bawean menuntut agar DPC PKB mengambil langkah solutif dan kooperatif yang tidak memperparah ketegangan dan disharmoni di PKB Bawean. Kedua membatalkan hasil musancab ulang PKB Tambak.
Ketua DPC PKB Gresik Achmad Nadir mengatakan, hingga kemarin pihaknya belum menerima surat keberatan GP Anshor Bawean. Nadir juga menyebutkan, musancab ulang tidak perlu dibatalkan.
"Namun, jika memang ada masukan dari GP Anshor cabang Bawean, aspirasi mereka akan kami terima dan kami pelajari. Jika memang ada kesalahan yang fatal, bisa saja hasil musancab ulang itu dikoreksi dan bila perlu diadakan lagi musancab ulang kembali," ujar Nadir. (OTW)
Jawa Timur
Jumat, 21 Februari 2003
Jalan di Pulau Bawean Belum Tersentuh Perbaikan
Gresik, Kompas - Kendati dalam setiap tahun Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Kabupaten Gresik mendapatkan alokasi dana untuk pembangunan dan perbaikan jalan dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kabupaten Gresik, upaya perbaikan jalan-jalan di Pulau Bawean banyak yang belum tersentuh. Hampir 75 persen kondisi jalan di Pulau Bawean rusak parah dan sulit dilalui kendaraan.
Demikian dikatakan Wakil Ketua DPRD Gresik Ali Dhofir kepada Kompas, Kamis (20/2), di Gresik. Menurut Ali, sejak Orde Baru runtuh, banyak jalan di Pulau Bawean yang tidak tersentuh perbaikan. "Padahal, kondisi kerusakan jalan sekitar 75 persen. Kendaraan yang lewat pun hanya bisa memakai persneling satu," kata Ali.
Dijelaskan, selain jalan-jalan kabupaten, kerusakan juga banyak terjadi pada jalan desa yang ramai dilalui kendaraan. "Untuk jalan kabupaten, sedikitnya ada lima jalan utama yang mengalami kerusakan yang parah dan belum pernah tersentuh perbaikan. Sementara untuk jalan desa yang kondisinya mengkhawatirkan, ada sekitar empat jalan," ujar Ali.
Dikatakan, beberapa jalan kabupaten yang rusak parah di antaranya Jalan Makam, Jalan Koala, Jalan Sangkapura-Tambak di Desa Sungai Teluk, Jalan Dipongga di Desa Tanjung Wuri, dan Jalan Sangkapura-Tambak di Desa Kepuh Teluk. Sementara empat jalan desa yang kondisinya rusak parah terdapat di Kecamatan Tambak dan Sangkapura di Desa Teluk Dalam, Kepuh Legundi.
Secara terpisah, Kepala Sub-Dinas Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Tugas Husni Syarwanto mengatakan, untuk anggaran tahun 2003 pihaknya mendapat alokasi dana dari APBD sekitar RP 7 milyar. "Dari anggaran tersebut kami gunakan untuk perbaikan rutin jalan sepanjang 128 kilometer sekitar Rp 1,9 milyar, perbaikan berkala sepanjang 14,3 kilometer Rp 3 milyar, peningkatan jalan sepanjang dua kilometer Rp 2,1 milyar, dan jembatan jalan Rp 1,5 milyar," kata Tugas.
Dikatakan, dari alokasi dana tersebut jalan-jalan di Pulau Bawean memang belum tersentuh. "Namun demikian, akan kami usahakan, dalam PAK nanti kami siapkan anggaran untuk perbaikan jalan di sana. Dalam perbaikan jalan, kami tentukan skala prioritas," ujar Tugas. (OTW)
Jawa TimurSenin, 7 Oktober 2002
Di Tulungagung, Batu Onyx dari Bawean Menjadi Uang
Selama ini orang hanya mengenal daerah Tulungagung sebagai pusat kerajinan dan penghasil batu onyx. Namun, jika mau ditelusuri lebih jauh asal-muasal batu onyx yang di produksi Tulungagung sebenarnya kebanyakan berasal dari Pulau Bawean, Kabupaten Gresik.
"Hampir 90 persen bahan material batu onyx berasal dari Bawean. Ciri khas batu onyx dari bawean berwarna putih, kuning, abu-abu, dan hijau. Jika anda menemukan batu onyx dengan warna-warna tersebut, maka batu itu berasal dari Bawean, sedangkan batu onyx yang berasal dari luar Bawean biasanya warnanya lebih redup atau berwarna hitam dan coklat," ujar Donny, salah satu pengusaha batu onyx Bawean.
Lalu mengapa daerah Bawean menjadi tidak terkenal dengan batu onyx-nya? Menurut Donny, hal itu diakibatkan keengganan masyarakat Bawean mengembangkan usaha batu onyx. "Masyarakat di sini gengsinya cukup tinggi. Mereka enggan bekerja keras seperti mengolah batu onyx menjadi barang hiasan. Dari tujuh orang yang bekerja di pabrik saya, tak satu pun ditemukan orang Bawean. Semua pekerja saya datangkan dari Tulungagung," ujar Donny.
Apa yang diungkapkan Donny memang tidak berlebihan. Dari pengamatan Kompas, di sejumlah rumah penduduk di Pulau Bawean, batu onyx malah dijadikan fondasi rumah dan pembatas jalan. "Coba anda bayangkan, kalau di Tulungagung semua itu sudah menjadi uang, tetapi di sini semuanya dibiarkan tersia-sia," ucap Donny.
Tersia-siakannya batu onyx di Pulau Bawean, menurut Donny, bukan semata-mata karena ketidaktahuan masyarakat Bawean. "Mereka tahu, kalau batu itu sangat berharga, hanya saja mereka enggan mengolahnya. Hampir 90 persen masyarakat Bawean bekerja sebagai tenaga kerja di negara tetangga Malaysia dan Singapura. Masyarakat yang ada di sini sepenuhnya bergantung dari kiriman uang dari sanak keluarganya yang bekerja di luar negeri. Tak heran jika masyarakat di sini enggan bekerja keras," kata Donny.
Di Pulau Bawean selain Donny terdapat dua pengusaha batu onyx lainnya. Di samping mengirimkan batu onyx yang sudah dibentuk, para pengusaha batu onyx Bawean mengirimkan bahan-bahan mentah batu onyx dalam bentuk lembaran-lembaran dan kotak-kotak besar.
"Sebenarnya bagi kita lebih untung mengirimkan barang-barang yang sudah jadi, tetapi karena keterbatasan tenaga kerja kami dan permintaan bahan baku yang cukup besar dari Tulungagung membuat kita tak ada pilihan lain, kecuali mengirimkan bahan baku batu onyx tersebut," kata Donny.
Untuk jenis batu onyx super yang berwarna putih mengkilat, per lembarnya yang berukuran 1,20 cm x 1,70 cm dijual dengan harga Rp 470.000. "Beda kalau batu itu sudah diolah menjadi meja atau tempat telepon, harganya bisa dua kali lipat," ujar Donny.
Dalam satu bulan, kata Donny, pabriknya mampu menghasilkan sekitar 200 buah batu onyx yang sudah diolah menjadi meja, kursi, tempat telepon, tempat minum, jam atau segala macam bentuk hiasan lainnya. "Karena saya hanya punya lima mesin, kemampuan kita menghasilkan barang lebih dari 200 sangat sulit. Apalagi tenaga kerja kita yang jumlahnya hanya tujuh orang," ujar Donny.
Untuk menghasilkan sebuah karya batu onyx yang indah diperlukan waktu yang agak lama. "Diperlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam membentuk batu onyx, terutama dari urat-urat yang terdapat dalam batu itu. Jika tidak hati-hati, batu yang sudah kita lubangi pada bagian tengahnya itu bisa meledak," papar Donny.
Donny mencontohkan, untuk membuat satu batu onyx berbentuk gelas saja dibutuhkan waktu dua hari. Asbak, hampir satu hari, sedangkan untuk perabotan yang lebih besar biasanya memakan waktu lima hari sampai satu minggu. "Batu onyx yang indah, selain dilihat dari desainnya juga alur urat batunya dan warnanya," kata Donny.
Permintaan masyarakat lebih banyak pada jenis batu super yang warnanya putih mengkilat. "Namun, ada juga beberapa penggemar batu Onyx yang justru menyukai batu berwarna gelap. Orang-orang Korea lebih suka dengan warna gelap," tambah Donny.
Jika dibandingkan dengan produksi batu onyx Tulungagung dan Bandung, batu onyx dari Bawean tidak kalah. "Cuma dibandingkan dengan jaringan pemasaran, kita jauh tertinggal," ujarnya. Kendati demikian, dari usahannya yang sudah digeluti lebih dari lima tahun, Donny mengaku usahanya masih memperoleh keuntungan sebesar Rp 10 juta per bulan.
"Saya memulai usaha ini dengan modal sebesar Rp 75 juta. Alhamdulillah modal saya sudah tertutup dan setiap bulan masih mendapatkan keuntungan," kata Donny.
Konsumen jenis batu ini tidak hanya berasal dari Bawean saja. Selain dari Gresik, beberapa pelanggannya berasal dari Malaysia dan Singapura. "Meskipun jumlahnya tidak banyak, tetapi cukup lumayan. Mungkin agar batu onyx Bawean dapat dikenal masyarakat, Pemerintah Kabupaten Gresik perlu membuat semacam koperasi yang bertempat di Gresik, sehingga pemasarannya pun akan lebih mudah terjangkau. Kalau tetap seperti ini saja kondisinya, maka saya yakin kerajinan onyx Bawean selamanya tidak dikenal orang," kata Donny. (T03)
Jawa Timur
Rabu, 5 Juni 2002
Warga Pulau Bawean Serahkan 192 Kendaraan "Bodong"
Gresik, Kompas - Sejumlah 192 kendaraan terdiri dari 177 kendaraan roda dua dan 15 kendaraan roda empat diserahkan serentak oleh warga Pulau Bawean, Gresik, ke Kepolisian Resor (Polres) Gresik. Penyerahan kendaraan bodong (tanpa surat-surat) itu dilakukan warga dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Tanjung Redeb dan KM Palangkaraya, Sabtu (1/6) dini hari.
Kepala Polres Gresik Ronny F Sompie mengatakan, kendaraan tersebut secara sukarela diserahkan oleh warga Pulau Bawean ke beberapa tokoh masyarakat yang dikoordinir oleh Kepolisian Sektor (Polsek) Tambak dan Sangkapura. Warga pulau yang letaknya sekitar 18 mil utara Gresik itu takut dengan operasi kendaraan bermotor tanpa surat-surat yang dilakukan Polres Gresik beberapa waktu lalu.
"Untuk sementara kami hanya menerima dan menyita ratusan kendaraan ini. Yang jelas kami tidak menangkap atau menahan orang. Ini sungguh-sungguh kemauan baik dan kesadaran warga," ujarnya, Senin. Namun demikian, karena data pemilik terakhir kendaraan tersebut ada di masing-masing polsek, penyidikan akan dikembangkan dan pengusutan akan dilakukan sampai ditemukan sumbernya.
Dari penyidikan sementara terhadap 19 tersangka yang terjaring dalam operasi di Pulau Bawean 16-20 Mei lalu, diketahui bahwa kendaraan-kendaraan tanpa surat tersebut masuk ke Bawean melalui tiga pelabuhan, yaitu Pelabuhan Masalembo (Sumenep), Pelabuhan Sepuluh (Bangkalan), dan Pelabuhan Brondong (Lamongan).
Sementara itu, warga masyarakat yang kehilangan kendaraan bermotor diharapkan datang ke Polres Gresik untuk mencocokkan data kendaraannya dengan kendaraan sitaan tersebut dengan membawa dokumen seperti surat tanda nomor kendaraan (STNK), buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB), dan surat laporan kehilangan. Selain kendaraan bermotor, warga Pulau Bawean juga menyerahkan tiga meter kubik kayu jati dan 35 keping video compact disk (VCD) porno. (M06)
Jawa Timur
Jumat, 17 Mei 2002
Akhirnya, 61 Ton Beras Miskin Disalurkan ke Pulau Bawean
Gresik, Kompas - Setelah terlambat beberapa bulan, jatah beras bulan Januari dan Februari 2002 untuk keluarga miskin (raskin) di Pulau Bawean sebanyak 61.080 kilogram, disalurkan oleh Depo Logistik (Dolog) Surabaya Utara dan staf Bagian Sosial Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik melalui Pelabuhan Gresik dengan menggunakan Kapal Motor (KM) Tanjung Redeb, Kamis (16/5).
Menurut Kepala Bagian Sosial Pemkab Gresik Jahja, keterlambatan penyaluran raskin terjadi karena letak Pulau Bawean terpencil, sekitar 18 mil di utara Pelabuhan Gresik. "Selain karena jauh, mekanisme pendataan dan penyaluran raskin di dua kecamatan yang ada di Bawean juga memakan waktu lama karena jarak antardesa berjauhan," jelasnya.
Dua kecamatan di Pulau Bawean itu adalah Kecamatan Tambak dan Kecamatan Sangkapura dengan total penerima raskin 1.572 kepala keluarga. Tiap kepala keluarga mendapatkan 20 kilogram beras per bulan dengan harga Rp 1.000 per kg. Data keluarga miskin ini diperolah dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dua kecamatan tersebut.
Menurut rencana semula, jatah beras raskin bulan Januari sampai Mei akan dikirim sekaligus. Namun, karena petugas pelaksana tingkat desa dan kecamatan keberatan lantaran khawatir warga tidak mampu langsung membayar semua jatah beras lima bulan yang disalurkan, pengiriman dilakukan bertahap setelah tahap sebelumnya lunas dibayar. "Namun, kami merencanakan semua jatah raskin lima bulan terakhir bisa tersalurkan akhir Mei ini," jelas Jahja.
Berdasarkan platform Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Gresik yang terdiri dari 18 kecamatan mendapat bantuan raskin untuk 32.523 kepala keluarga. Untuk 16 kecamatan lain, bantuan raskin sudah disalurkan sejak Februari 2002 dengan sistem cash and carry. Keluarga penerima yang belum melunasi bantuan raskin yang dipaket per karung 20 kilogram bulan sebelumnya, tidak akan mendapat bantuan untuk bulan berikutnya.
Untuk menghindarkan kemungkinan penggelapan bantuan raskin oleh oknum pemerintah seperti terjadi di Kecamatan Ujungpangkah, telah dibentuk tim pemantau raskin yang anggotanya terdiri dari Pemkab Gresik dan Dolog Jatim. Selain memantau, tim ini bertugas memberikan penyuluhan kepada keluarga penerima agar termotivasi untuk bangkit dari kemiskinannya. (M06)
Jawa Timur
Sabtu, 27 April 2002
INTI EKBIS
Lapangan Terbang di Bawean
Anggota Komisi II DPR asal Pulau Bawean, Yahya Zaini SH, mengusulkan kepada Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo untuk membangun lapangan terbang di Pulau Bawean, Gresik, karena selama ini yang terdengar hanya di Sumenep dan Banyuwangi. Pembangunan lapangan terbang di Bawean sangat menguntungkan, karena banyak penduduk pulau kecil di utara Gresik itu yang secara turun-temurun bekerja di Malaysia. Jenis lapangan terbang perintis paling cocok, dan angkutan udara ini akan banyak menghemat waktu, karena mempergunakan kapal laut dari Gresik memakan waktu bisa sampai dua jam. (ANTARA/AWE)
Sabtu, 17 Februari 2001
Anggota Komisi II DPR asal Pulau Bawean, Yahya Zaini SH, mengusulkan kepada Gubernur Jawa Timur (Jatim) Imam Utomo untuk membangun lapangan terbang di Pulau Bawean, Gresik, karena selama ini yang terdengar hanya di Sumenep dan Banyuwangi. Pembangunan lapangan terbang di Bawean sangat menguntungkan, karena banyak penduduk pulau kecil di utara Gresik itu yang secara turun-temurun bekerja di Malaysia. Jenis lapangan terbang perintis paling cocok, dan angkutan udara ini akan banyak menghemat waktu, karena mempergunakan kapal laut dari Gresik memakan waktu bisa sampai dua jam. (ANTARA/AWE)
Sabtu, 17 Februari 2001
Gresik - Bawean Terganggu
Armatim Siapkan Kapal Perang
Surabaya, Kompas
Badai dan gelombang laut setinggi empat meter, akhir-akhir ini mengganggu kelancaran transportasi laut dari Gresik - Pulau Bawean dan sebaliknya. Oleh sebab itu, Armada RI Kawasan Timur (Armatim) menyiagakan satu kapal perang KRI Sangkuriang, untuk membantu warga masyarakat Pulau Bawean.
Panglima Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Adi Hariyono ketika dikonfirmasi Kompas di sela-sela penyerahan kapal kontainer buatan PT PAL Indonesia kepada PT Djakarta Lloyd, hari Jumat (16/2) menandaskan, pihaknya telah menyiagakan satu buah kapal perang KRI Sangkuriang untuk membantu warga masyarakat Pulau Bawean yang sedang kesulitan transportasi, baik untuk angkutan penumpang maupun barang. "Saya kira sudah cukup satu kapal untuk membantu kesulitan yang sekarang ini dihadapi warga Bawean," ujarnya.
Menurut Adi Hariyono, pengoperasian kapal perang milik Armada RI Kawasan Timur (Armatim) amat bergantung kepada permintaan Pemerintah Daerah (Pemda) Gresik. "Kemarin (hari Kamis, 15/2-Red), kapal perang itu sudah siap berangkat ke Bawean, tetapi oleh Bupati Gresik dibatalkan dengan alasan khawatir menabrak dermaga yang sudah rusak, karena gelombang besar," ujarnya.
Adi Hariyono mengatakan, kapal perang yang telah disiapkan sekaligus siaga penuh selama 24 jam, sewaktu-waktu diperlukan untuk membantu kesulitan warga masyarakat Pulau Bawean, bisa segera digerakkan. Tujuannya, agar arus penumpang maupun barang dari Pulau Bawean ke Gresik dan sebaliknya, bisa segera diatasi. Itu artinya kesulitan transportasi penumpang dan barang bisa cepat tertanggulangi. "Sewaktu-waktu dibutuhkan, kami siap," tandasnya. (tif)
Badai dan gelombang laut setinggi empat meter, akhir-akhir ini mengganggu kelancaran transportasi laut dari Gresik - Pulau Bawean dan sebaliknya. Oleh sebab itu, Armada RI Kawasan Timur (Armatim) menyiagakan satu kapal perang KRI Sangkuriang, untuk membantu warga masyarakat Pulau Bawean.
Panglima Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksda TNI Adi Hariyono ketika dikonfirmasi Kompas di sela-sela penyerahan kapal kontainer buatan PT PAL Indonesia kepada PT Djakarta Lloyd, hari Jumat (16/2) menandaskan, pihaknya telah menyiagakan satu buah kapal perang KRI Sangkuriang untuk membantu warga masyarakat Pulau Bawean yang sedang kesulitan transportasi, baik untuk angkutan penumpang maupun barang. "Saya kira sudah cukup satu kapal untuk membantu kesulitan yang sekarang ini dihadapi warga Bawean," ujarnya.
Menurut Adi Hariyono, pengoperasian kapal perang milik Armada RI Kawasan Timur (Armatim) amat bergantung kepada permintaan Pemerintah Daerah (Pemda) Gresik. "Kemarin (hari Kamis, 15/2-Red), kapal perang itu sudah siap berangkat ke Bawean, tetapi oleh Bupati Gresik dibatalkan dengan alasan khawatir menabrak dermaga yang sudah rusak, karena gelombang besar," ujarnya.
Adi Hariyono mengatakan, kapal perang yang telah disiapkan sekaligus siaga penuh selama 24 jam, sewaktu-waktu diperlukan untuk membantu kesulitan warga masyarakat Pulau Bawean, bisa segera digerakkan. Tujuannya, agar arus penumpang maupun barang dari Pulau Bawean ke Gresik dan sebaliknya, bisa segera diatasi. Itu artinya kesulitan transportasi penumpang dan barang bisa cepat tertanggulangi. "Sewaktu-waktu dibutuhkan, kami siap," tandasnya. (tif)
posted by ABDUL BASIT
@ 5:26 PM
1 comments
![]()
PULAU BAWEAN

posted by ABDUL BASIT
@ 3:22 PM
1 comments
![]()
.: Kotoran saja tak ketemu, apalagi jejak :.
Oleh : YULI WULAN SARI (NIM. 99465/IMP)
Oleh : YULI WULAN SARI (NIM. 99465/IMP)
Hari Jum’at 15 Februari 2002, pukul 04.30 WIB tepat ketika adzan subuh berkumandang dari kejauhan, kami menginjakkan kaki di Pulau Bawean, pulau kecil yang terletak 50 mil dari Pulau Jawa. Di pulau ini kami bermaksud melakukan kegiatan observasi fauna Bawean, sesuai dengan titel kegiatan kami
Observasi Fauna Bawean (OFB) 2002 ini yang merupakan salah satu rangkaian dari pendidikan Anggota Muda IMPALA UNIBRAW ini diikuti oleh 6 orang, Haris, Yuli, Lukman, Wildan, Tri, dan Muzaki. Pulau Bawean, tempat kami akan menghabiskan waktu selama enam hari ke depan tersebut dihuni oleh satwa endemik rusa, binatang bertanduk yang dalam bahasa latinnya disebut Axis Kuhlii.
Badan rasanya remuk dan tulang-tulang terasa mau patah setelah perjalanan kurang lebih 10 jam menggunakan kapal laut ditemani hantaman ombak Laut Jawa yang lumayan bisa membuat kami semua mabuk laut. Pagi itu kami belum bisa melihat pemandangan sekitar Pulau Bawean karena cuaca dan kondisi tim yang tidak memungkinkan. Dari dermaga, dua orang sekonyong-konyong datang dan menjabat erat tangan kami bergantian. Ternyata mereka adalah rekan Hayatudin yang akrab dipanggil Udin, salah seorang Anggota Muda Eks Diklatsar 23 IMPALA UNIBRAW, ditemani mas Awik pamannya, yang bermaksud menjemput kedatangan kami. Selanjutnya mereka membawa kami ke desa Gunung Teguh, tempat tinggal Udin, untuk beristirahat dan melengkapi semua keperluan perijinan.
Kami kaum pengembara yang senantiasa mencari jalan yang sepi tak pernah menyongsong pagi di tempat yang sama. Seperti kemarin masih kami huni dan tak pernah menyambut fajar di tempat yang sama seperti kemarin kami alami bahkan selama bumi tidur, berkelana jualah kami. Kami benih tanaman dari jenis yang kuat bertahan dalam keranuman dan istirahatilah (?) letak alasan mengapa senantiasa kami terbawa mengembara di atas buana dan tersebar kemana-mana (Khalil Gibran ).
Keesokan harinya setelah sehari penuh melakukan recovery, kami bermaksud untuk memulai kegiatan kami. Pada hari Sabtu tepat pukul 08.00 WIB, kami berangkat menuju Budakit Barat dengan diantarkan oleh petugas Perhutani Budakit Barat bapak Nursyamsi, yang selanjutnya bersama mas Awik, menjadi guide kami selama berkegiatan. Kami melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam menuju menara pengintai I, lokasi pertama yang kami tuju setelah sebelumnya melihat peta penyebaran Rusa Bawean. Menara ini biasa digunakan oleh petugas untuk melakukan observasi Rusa Bawean. Daerah sekitar menara merupakan padang rumput yang sebagian sudah ditumbuhi ilalang yang tinggi, merupakan lokasi tempat rusa mencari minum.
Sebelum melakukan pencarian jejak rusa, kami melakukan orientasi medan terlebih dulu. Namun baru beberapa saat, “ Waduh, sepertinya cuaca mulai tak bersahabat ini. Mas, lihat mendungnya sudah seperti mau jatuh aja!“, teriak Lukman tiba-tiba. Kontan saja semua anggota tim termasuk dua orang petugas Perhutani Budakit Barat mendongak ke atas. Benar saja, tidak berapa lama kemudian hujan turun dengan derasnya. Dengan kondisi tanah yang becek dan berlumpur, kami terpaksa menghentikan pergerakan. Hari itu terpaksa kami harus mengubah skenario yang telah disusun sebelumnya. Rencananya kami akan menginap di menara pengintai II, namun karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan terpaksa kami menginap di menara pengintai I.
Menara ini mempunyai dua lantai yang terbuat dari kayu jati tua. Bangunannya cukup kokoh dan mampu menampung 20 orang. Malam itu kami memutuskan untuk tidur di menara dan tidak perlu menggelar tenda. Setidaknya suhu di menara cukup hangat dan kami bisa beristirahat dengan nyaman daripada berkemah di luar, di tengah cuaca buruk begini. Udara yang cukup dingin banyak membakar kalori dan lemak sehingga membuat perut kami semua keroncongan. “Luwe rek, kapan iki mangane“, Wildan mulai bersuara setelah sekian lama terdiam merasakan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. Sepiring nasi dan segelas kopi susu hangat menemani makan malam kami. Setelah itu kami melakukan evaluasi dan briefing untuk kegiatan esok hari. Kurang lebih pukul 21.00 kami beristirahat untuk menyiapkan kondisi fisik agar esok hari tidak lemas lagi.
Tanggal 17 Februari 2002, dini hari itu suara berat Wildan membangunkan kami dari tidur nyenyak semalam. Tak terasa hari ini sudah memasuki hari ketiga di lapangan. Seperti biasa, pagi itu kami disibukkan dengan aktivitas masak, makan dan kemudian SPI. Pada pukul 09.00, setelah sebelumnya menunggu kurang lebih 1 jam akhirnya petugas yang berjanji akan menyusul dan mengantarkan kami ke menara II akhirnya datang juga. Medan yang kami lalui adalah jalan setapak yang kanan kirinya banyak ditumbuhi ilalang, kemudian naik turun perbukitan dan menyebrangi sungai kecil. Rasanya seperti bertualang di negeri hobbit, negeri orang kerdil dalam film The Lord of the Ring .
Sesekali kami berhenti untuk mengidentifikasi pohon, semak dan buah yang menjadi makanan rusa Bawean. Mata kami tidak pernah berhenti waspada terhadap suasana sekitar, berjaga-jaga siapa tahu ada rusa yang lewat, apalagi sebelumnya kami menemukan bekas gesekan tanduk rusa Bawean di sebatang pohon. Menurut cerita pak Nursyamsi, beberapa waktu sebelum kami datang ada seorang peneliti dari Jerman yang tertarik untuk mengamati kehidupan rusa Bawean. Selama 3 bulan lebih dia melakukan pengamatan terhadap perilaku rusa Bawean, ternyata hanya menemukan kotorannya saja. Bayangkan saja, orang Jerman yang melakukan penelitian selama 3 bulan lebih hanya menemukan kotorannya saja, sungguh satu keajaiban kalau kami dapat menemukan rusa sedang minum dan makan di sekitar daerah pengintaian.
Rusa mempunyai kecenderungan untuk hidup bergerombol. Puncak-puncak bukit adalah tempat mereka biasa berkumpul. Mereka melakukan perjalanan jauh kalau memang sudah tidak menemukan makanan dan air lagi. Mungkin kebetulan waktu itu sedang musim hujan sehingga rusa enggan untuk turun karena mereka sudah menemukan makanan dan air di puncak. Menurut data dari peta yang kami peroleh dari Perhutani setempat ada 3 area yang sering dikinjungi fauna ini yaitu daerah sekitar menara pengintai I, daerah sekitar menara pengintai II dan Telaga Kestoba.
Kondisi menara pengintai II tidak jauh berbeda dengan menara pengintai I, mulai dari bentuk menaranya sampai dengan area sekitar menara II. Tak banyak yang bisa dilakukan oleh tim. Tim hanya bisa melakukan pengamatan jarak jauh dan pengamatan jarak dekat dengan bantuan 2 buah HT dan 2 buah binokuler. Selanjutnya tim melakukan pergerakan menyusuri area sekitar menara pengintai. Tim dibagi 2 untuk efektivitas penyapuan. Tapi hasilnyapun nihil, kami tidak menemukan satupun tanda-tanda bahwa daerah itu baru saja dikunjungi oleh kawanan rusa. Tidak berapa lama kemudian salah seorang dari kami menemukan jejak. Setelah diidentifikasi ternyata yang kami temukan adalah jejak babi hutan. Yah, tak apalah. Minimal kita masih menemukan fauna yang lain yang hidup dan ikut berkoloni dengan rusa. Jejak ini meskipun bukan jejak rusa, kami coba membuat plastercastnya.. Di lokasi ini kami juga mencoba mengaplikasikan materi Analisa Vegetasi dengan sistem petak tunggal. Dari hasil analisa vegetasi yang kami lakukan, kami berhasil mengidentifikasi 8 jenis tumbuhan yang merupakan makanan rusa. Kedelapan jenis tumbuhan itu adalah Tali Hatta, Tali Cacing, Kabaan Merah dan putih, Buah Kayu Buluh, Lading-ladingan, Labedung, Padi-padian, dan Rambuk. Dari data yang ada, di Pulau Bawean ini ada 84 jenis tumbuhan yang menjadi makanan rusa.
Pukul 13.00 WIB setelah mengganjal perut dengan roti dan biskuit, sesuai dengan skenario, kami harus segera melanjutkan perjalanan agar nanti tepat pukul 14.00 WIB sudah sampai di desa terdekat untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Danau Kastoba. “Seger-seger, akhirnya sampai juga kita di peradapan“, ujar Lukman berseloroh, setelah selama 3 hari kita hanya menjumpai wajah-wajah lusuh tim yang tidak pernah mandi dan kusut karena belum juga menjumpai seekorpun rusa. Haris yang sedari tadi kelelahanpun akhirnya bisa tersenyum. “Ini namanya belimbing khas Bawean!”, seorang penduduk menerangkan sambil memberikan beberapa kantong buah belimbing yang dipetik dari halamannya sendiri. Di kampung Sumber Nanas, tim beristirahat di rumahnya bapak Nursyamsi, sambil menunggu angkutan yang akan membawa tim ke danau Kastoba.
Akhirnya setelah menunggu beberapa saat, mobil pick up membawa kami menuju ke danau Kastoba. Dua jam perjalanan menuju lokasi kami gunakan dengan sebaik-baiknya untuk istirahat sebelum melakukan perjalanan kembali. Di sepanjang perjalanan, di kanan kiri kami hamparan sawah yang baru ditanami padi terbentang luas dengan sungai-sungai kecil yang mengalir jernih. Jalan setapak yang yang dilewati pick up ini terbuat dari semen dan sepertinya sudah dibuat sejak lama.
Tak terasa akhirnya kami sudah tiba di Danau Kastoba. Selama kurang lebih setengah jam dari pemberhentian kendaraan terakhir, kami harus berjalan dengan kondisi jalan yang lumayan menanjak. Betul-betul melelahkan, ditambah lagi beban di pundak yang semakin memperberat langkah kami. Namun semua gerutu dan umpatan mendadak hilang diganti dengan decak kagum saat kami telah sampai di hamparan air yang tak terkira indahnya. Sungguh keajaiban Tuhan ! Ternyata Danau Kastoba adalah sebuah danau mengalir yang dipakai sebagai salah satu sumber air penduduk Bawean. Udara sejuk menerpa wajah kami yang basah kuyup karena keringat yang mengucur deras ketika dalam perjalanan. “Allahu Akbar, Allahu Akbar .......”, terdengar suara mas Awik mengumandangkan adzan. Bukan berarti seruan untuk sholat, tapi itu merupakan adat yang dianut oleh penduduk sekitar jika hendak menginap di daerah sekitar danau. Menurut mitos yang berlaku, kumandang adzan ini semacam ungkapan permisi agar tidak ada yang celaka atau meninggal karena diganggu oleh roh-roh halus. Akan tetapi kami percaya selama kita tidak berbuat macam-macam pasti tidak akan terjadi apa-apa.
Danau Kastoba merupakan salah satu daerah wisata yang menjadi kebanggaan penduduk di Pulau Bawean. Di sekitar danau terdapat 2 buah pendopo yang lumayan untuk digunakan bersantai menikmati indahnya danau dan sejuknya udara di sana. Di antara 2 pendopo ini ada aliran air yang menjadi jalur distribusi dari danau menuju sungai- sungai yang mengalir di Pulau bawean. Kami selanjutnya memutuskan untuk mendirikan tenda di pendopo kedua karena kondisinya lebih baik dari pendopo pertama. Kondisi pendopo sangat mengenaskan, dari cerita yang kami dengar hal itu dikarenakan adanya konflik penduduk sekitar yang pro dan kontra terhadap peresmian Danau Kastoba sebagai kawasan wisata, sehingga protes mereka dilancarkan pada sarana yang ada.
Matahari mulai menyembunyikan mukanya untuk berganti menyinari tempat lain di bumi ini. Tenda sudah berdiri, tinggal makanan yang belum siap. Sebagian tim menyelesaikan masakan dan sebagian lagi menikmati dinginnya air Danau Kastoba. Setelah selama 3 hari berturut-turut tidak mandi akhirnya kami dapat membersihkan badan dengan bersih dan segar. Elang Jawa , burung pipit dan aneka burung lainnya mulai berkeliaran kembali ke sarangnya bersiap untuk istirahat. Sungguh pemandangan yang sangat indah, ditambah lagi melihat merahnya sang surya di langit yang cerah diiringi suara derasnya aliran danau dan bisingnya teriakan Elang Jawa.
Semalaman kami tertidur lelap walaupun dalam hati khawatir karena angin yang kurang bersahabat, mencoba memporak-porandakan tenda kami. Hari berangsur-angsur mulai terang, memaksa kami mengakhiri mimpi indah bertemu rusa. “ Bangun, rek! SPI! Wis jam 6 lho !”, Wildan berteriak-teriak melakukan tugasnya membangunkan tim. Dengan mata yang masih mengantuk kami bergegas bangun dan menyambut hari itu dengan semangat baru. Lari di tempat !”, Tri mulai memimpin SPI pagi itu.
Setelah mengisi perut, kami bersiap-siap melakukan pergerakan kembali. Hari ini kami memutuskan untuk tidak hanya memfokuskan pada pengamatan rusa. Melihat kondisi medan yang masih perawan dan alat-alat penunjang yang tidak memadai untuk menerobos lokasi-lokasi yang diduga sebagai tempat rusa berkumpul, kami memutuskan untuk observasi fauna-fauna lain, khususnya burung yang banyak terdapat di daerah ini. Tim dibagi menjadi 2, ada yang bergerak ke arah kiri dan ada yang bergerak ke arah kanan. Sesuai dengan rencana baru, kami melakukan pengamatan burung dengan mengamati morfologinya, suaranya, dan kalau memungkinkann makanannya. Tidak terasa kontrak waktu telah habis dan apapun hasilnya tim harus kembali ke base camp, packing dan melakukan persiapan untuk perjalanan pulang menuju rumah Udin.
Dengan berat hati, pada pukul 09.00 WIB kami meninggalkan Danau Kastoba yang indah. Kami melakukan perjalanan berkilo-kilo meter melewai sawah, ladang, menyeberang sungai dan sesekali mampir ke rumah penduduk untuk istirahat. Lumayan banyak yang tidak tega melihat wajah lesu kami dan akhirnya menyuguhi kami dengan makanan kecil dan buah-buahan. Dasar nasib lagi baik, kami juga mendapat tumpangan menuju ke Gunung Teguh.
Tiba di Gunung Teguh, di rumah Udin, hari masih siang dan masih cukup waktu untuk membersihkan diri dan beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju Malang. Belum puas menikmati segarnya air kelapa muda yang dipetik dari pohon kelapa milik Udin, pukul 15.00 WIB kami berpamitan menuju pelabuhan karena pukul 16.00 WIB kapal laut yang akan membawa kami bertolak.
Kapal Kumala Suri membawa kita kembali ke Pulau Jawa. Kali ini tim tidak ada yang mabuk laut karena disamping kapalnya yang lumayan bersih, kondisi tim juga sudah kelelahan, sehingga semuanya tertidur lelap. Kurang dari 9 jam kita sudah sampai di pelabuhan kota Gresik. Pukul 02.00 WIB dini hari kita sudah berkeliaran di pelabuhan menunggu jemputan dari Novi Dwi Hapsari (NIM. 98442/IMP) yang kebetulan orang tuanya tinggal di Gresik. Di rumah Novi kami disambut dengan hangat. Setelah bercerita panjang lebar mengenai kegiatan kami, kemudian kami melanjutkan istirahat kembali sampai pagi menjelang. Pukul 08.00 WIB bis dari terminal Oso Wilangun membawa kami kembali ke kota Malang. Tepat pukul 11.30 WIB kami sampai di sekretariat tercinta dan disambut teman-teman dengan pandangan kangen (ke ge-er-an aja kita ngerasa dikangenin). Bapak Ketua Umum memberi ucapan selamat datang penuh semangat dengan sapaan khas IMPALA UNIBRAW “ BRAVO !!” membuat segala penat tiba-tiba hilang berganti dengan semangat. “ IMPALA “, balas kami dan teman-teman yang lain tidak kalah semangat. Semangat yang harus tetap dipertahankan, karena kami belum bisa melakukan observasi Rusa Bawean. Kotorannya saja yang semula dalam bayangan kami enggan untuk menyentuh, membau, memindah, tidak kami temukan, apalagi jejaknya ! Tapi paling tidak kami bisa belajar banyak dari kegiatan tersebut.
posted by ABDUL BASIT
@ 2:06 PM
0 comments
![]()
...........|| Friday, September 22, 2006 ||
SELAMAT DAN SUKSES
MUNAS I
MUNAS I
ENVIRONMENTAL PARLIAMENT WACTH (EPW)
di Yogyakarta
19 - 21 September 2006
19 - 21 September 2006
Saya merasa bahwa hidupku selama ini kurang bermakna bagi alamku sendiri, sehingga kecendurungan dan perilaku terkadang merugikan alam lingkungan kita yang indah nan mempesona.
Pada Tanggal 19-21 September 2006, saya dengan teman (sahar sulur) mengikuti Musyawarah Nasional (Munas) I EPW di Villa Edden Kaliurang Yogyakarta, mewakili Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur.
Banyak yang perlu kita urai sebagai hasil Munas EPW I di Yogyakarta, diantaranya :
Perihal tempat Munas di Villa Edden
Alangkah senang dan gembiranya melihat tampang dan wajah peserta Munas EPW, adakah karena momentnya di Villa. Sehingga peserta memanfaatkan untuk menikmati hidup jadi orang kaya walaupun hanya 3 hari.
Bagi saya, pelaksanaan Munas EPW I di Villa adalah moment yang mengecewakan dan menyakitkan, bila kita berfikir dan merenungi nasib saudarah2 kita yang terlantar dan terkena bencana alam. Pemborosan yang dilakukan segera hentikan, mari kita belajar hemat dan lebih menitikberatkan pada nilai dan makna Munas daripada kita bertempat pada Villa dengan anggaran yang besar. Semoga semua elemen LSM dan Pemerintah dll, dalam melaksanakan program kerja dan Musyawarah bisa dilaksanakan gubuk bambu dan bisa memberikan kontribusi nilai yang lebih berharga karena berhubungan langsung dengan saudara kita yang masih banyak dalam kemiskinan dan kekurangan. Khususnya saudara2 kita yang dalam kondisi bencana alam. Yang diperlukan adalah hasil dan nilai dari Munas, bukan persoalan dimana kita Munas?
Perihal Hasil Munas
Hasil Munas EPW I sangat mengecewakan, dikarenakan kekurangan dipihak panitia dan Kornas EPW. Disana sini banyak kekurangan yang perlu dibenahi, khususnya berkaitan dengan acara yang terkesan kita dalam taraf latihan Munas. Mulai dari pembicara yang tidak hadir sampai di acara sidang komisi dan pleno yang tidak menunjukkan intelektualitas lingkungan. Yang semula dibuka Wakil Presiden, ternyata beliau berhalangan hadir. Dan ketidakhadiran beliau memiliki makna yang cukup, dikarenakan Panitia Munas EPW I tidak memampang gambar lambang negara dan Preseiden/ Wapres di dikorasi podium Munas EPW I.
Hasil Munas EPW I sangat mengecewakan, dikarenakan kekurangan dipihak panitia dan Kornas EPW. Disana sini banyak kekurangan yang perlu dibenahi, khususnya berkaitan dengan acara yang terkesan kita dalam taraf latihan Munas. Mulai dari pembicara yang tidak hadir sampai di acara sidang komisi dan pleno yang tidak menunjukkan intelektualitas lingkungan. Yang semula dibuka Wakil Presiden, ternyata beliau berhalangan hadir. Dan ketidakhadiran beliau memiliki makna yang cukup, dikarenakan Panitia Munas EPW I tidak memampang gambar lambang negara dan Preseiden/ Wapres di dikorasi podium Munas EPW I.
Maka saya mengharap pada Kornas terpilih untuk membenahi kinerja dan fungsi kontrolnya terhadap parlement sesuai misi dan visi EPW. Tunjukkan profeseonalisme berorganisasi dan kepemimpinan yang berwibawa. Jangan jadikan Perkumpulan EPW hanya ladang untuk mengeruk keuntungan dari kalangan investor dan pemerintah. Bila perlu kita bersama menghukumi haram dapat uang sumbangan dari pihak penguasa baik eksekutif maupun legeslatif.
Bila berselingkuh dan kita hanya jadi kendaraan pihak penguasa, maka bersiaplah untuk mempertanggungjawabkan pada semua rakyat di Indonesia, khususnya yang peduli akan lingkungan.
Saya sangat kecewa dengan pertanggungjawaban saudara Faisal selaku Kornas tanpa memberikan pertenggungjawaban yang jelas khususnya berkaitan dangan laporan keuangan. Bahkan panitia ikut juga diam dan tidak ada tim audit dana yang didapat untuk pembiayaan Munas. Sehingga banyak peserta Munas yang pulang dengan gigit jari tanpa diganti uang transpot. Padahal siapapun yang datang itu adalah perwakilan, karena panitia terkesan bermain dengan mengurangi jatah peserta dari setiap propinsi. Contohnya Jawa Timur yang memiliki banyak Kabupaten hanya di beri jatah ganti transpot 6 Kabupaten.
Selama Koordinator EPW Saudara Faisal tetap bertahan seperti yang kemarin, tanpa ada niatan yang tulus dan ikhlas untuk memperjuangkan lingkungan. Saya pesemis EPW akan bisa memperjuangkan aspirasi rakyat dan masyarakat.
selamat Berjuang, Hidup............... EPW

(tgl 19-20 Sept.2006) Ketemu Pak Nabil Makarim (Mantan Menlh RI) dalam diskusi dan sidang komisi EPW

(tgl 21 Sept. 2006) Ketemu Pak Rahmat Witoelar (Menteri Lingkungan Hidup RI) di Kampus UMM UGM Yogyakarta
EPW Gresik : Abdul Basit
Hp : 081357375876
alamat :
Jl. Raya Laokgelur Desa Sidogedungbatu Sangkapura Pulau Bawean Gresik Jawa Rimur 61181
posted by ABDUL BASIT
@ 5:36 PM
0 comments
![]()
...........|| Thursday, September 21, 2006 ||
KOMPAS
Kamis, 21 September 2006
Nasional
Meneg LH: Lumpur Lapindo Dibuang ke Sungai Porong
YOGYAKARTA, KAMIS- Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengatakan, pembuangan lumpur ke Sungai Porong merupakan salah satu alternatif untuk menangani dampak terus meluapnya semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur.
"Lumpur yang ada saat ini sudah lebih dari 50.000 meter kubik, sehingga pemerintah mengambil jalan untuk mengalirkannya ke Sungai Porong," katanya kepada wartawan saat berlangsung acara Temu kader Lingkungan se-Jawa di gedung Magister Manajemen (MM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (21/9).
Ia mengatakan tim nasional yang khusus menangani masalah semburan lumpur ini sudah bekerja dan melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menekan dampak buruk dari luapan lumpur tersebut.
Beberapa saat setelah Meneg LH membuka acara dan meninggalkan gedung MM UGM, puluhan aktivis lingkungan dari seluruh kabupaten di Indonesia yang tergabung dalam Environment Parliament Watch (EPW) melakukan aksi unjukrasa menuntut pemerintah secepatnya menyelesaikan kasus lumpur panas PT Lapindo Brantas.
"Pemerintah harus mencabut izin operasional PT Lapindo Brantas dan mewajibkan perusahaan itu membayar semua kerugian yang ditimbulkan akibat bencana tersebut," kata Koordinator EPW, Sahar Sulur.
SUARA MERDEKA
Nasional Kamis, 21 September 2006
Pemerintah Didesak Cabut Izin Lapindo Brantas
Yogyakarta, CyberNews. Puluhan aktivis lingkungan dari seluruh kabupaten di Indonesia yang tergabung dalam Environment Parliament Watch (EPW) mendesak pemerintah untuk mencabut izin operasi PT Lapindo Brantas menyusul kasus semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur.
Pernyataan tersebut dikemukakan Koordinator EPW, Sahar Sulur dan aktivis lingkungan lainnya ketika melakukan aksi unjukrasa di tengah berlangsungnya acara Temu Kader Lingkungan Hidup se-Jawa di gedung Magister Manajemen (MM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (21/9).
Pertemuan tersebut dibuka resmi oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Namun para pengunjukrasa ini tidak bisa bertemu menteri karena sudah meninggalkan tempat acara sebelum para aktivis lingkungan tersebut melakukan aksinya.
Dalam aksi tersebut aktivis EPW berorasi sambil membawa poster yang berisi kecaman terhadap pemerintah dan PT Lapindo Brantas. Mereka menuntut penyelesaian secepatnya kasus lumpur panas PT Lapindo Brantas. Meski terjadi di Jawa Timur, namun musibah itu harus dijadikan sebagai kasus nasional untuk segera mendapat penanganan dari pemerintah.
"Pemerintah harus segera menanggulangi pencemaran lingkungan dalam kasus PT Lapindo Brantas di samping mewajibkan perusahaan tersebut untuk secepatnya memberikan ganti rugi kepada korban lumpur panas." kata Sahar.
EPW juga mendesak pemerintah agar mewajibkan PT Lapindo Brantas melakukan pemulihan lingkungan, karena jika tidak akan mengancam perekonomian Jawa Timur.
"Pemerintah harus bersikap tegas untuk memeriksa dan mengadili serta menerapkan asas pertanggungjawaban mutlak kepada direksi dan penanggung jawab PT Lapindo Brantas," kata Sahar.
Pemerintah juga diminta untuk tidak memanfaatkan laut sebagai tempat pembuangan lumpur panas karena bisa mengakibatkan kerusakan pada ekosistem laut.EPW mengharapkan pemerintah segera melakukan relokasi warga korban lumpur yang sampai saat ini nasibnya masih terlantar dan sangat memprihatinkan, serta mendesak berbagai pihak segera menyelesaikan ganti rugi pembebasan lahan yang digunakan untuk operasional PT Lapindo Brantas.(ant/cn09
Kamis, 21 September 2006
Nasional
Meneg LH: Lumpur Lapindo Dibuang ke Sungai Porong
YOGYAKARTA, KAMIS- Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar mengatakan, pembuangan lumpur ke Sungai Porong merupakan salah satu alternatif untuk menangani dampak terus meluapnya semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur.
"Lumpur yang ada saat ini sudah lebih dari 50.000 meter kubik, sehingga pemerintah mengambil jalan untuk mengalirkannya ke Sungai Porong," katanya kepada wartawan saat berlangsung acara Temu kader Lingkungan se-Jawa di gedung Magister Manajemen (MM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (21/9).
Ia mengatakan tim nasional yang khusus menangani masalah semburan lumpur ini sudah bekerja dan melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menekan dampak buruk dari luapan lumpur tersebut.
Beberapa saat setelah Meneg LH membuka acara dan meninggalkan gedung MM UGM, puluhan aktivis lingkungan dari seluruh kabupaten di Indonesia yang tergabung dalam Environment Parliament Watch (EPW) melakukan aksi unjukrasa menuntut pemerintah secepatnya menyelesaikan kasus lumpur panas PT Lapindo Brantas.
"Pemerintah harus mencabut izin operasional PT Lapindo Brantas dan mewajibkan perusahaan itu membayar semua kerugian yang ditimbulkan akibat bencana tersebut," kata Koordinator EPW, Sahar Sulur.
SUARA MERDEKA
Nasional Kamis, 21 September 2006
Pemerintah Didesak Cabut Izin Lapindo Brantas
Yogyakarta, CyberNews. Puluhan aktivis lingkungan dari seluruh kabupaten di Indonesia yang tergabung dalam Environment Parliament Watch (EPW) mendesak pemerintah untuk mencabut izin operasi PT Lapindo Brantas menyusul kasus semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jawa Timur.
Pernyataan tersebut dikemukakan Koordinator EPW, Sahar Sulur dan aktivis lingkungan lainnya ketika melakukan aksi unjukrasa di tengah berlangsungnya acara Temu Kader Lingkungan Hidup se-Jawa di gedung Magister Manajemen (MM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (21/9).
Pertemuan tersebut dibuka resmi oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Namun para pengunjukrasa ini tidak bisa bertemu menteri karena sudah meninggalkan tempat acara sebelum para aktivis lingkungan tersebut melakukan aksinya.
Dalam aksi tersebut aktivis EPW berorasi sambil membawa poster yang berisi kecaman terhadap pemerintah dan PT Lapindo Brantas. Mereka menuntut penyelesaian secepatnya kasus lumpur panas PT Lapindo Brantas. Meski terjadi di Jawa Timur, namun musibah itu harus dijadikan sebagai kasus nasional untuk segera mendapat penanganan dari pemerintah.
"Pemerintah harus segera menanggulangi pencemaran lingkungan dalam kasus PT Lapindo Brantas di samping mewajibkan perusahaan tersebut untuk secepatnya memberikan ganti rugi kepada korban lumpur panas." kata Sahar.
EPW juga mendesak pemerintah agar mewajibkan PT Lapindo Brantas melakukan pemulihan lingkungan, karena jika tidak akan mengancam perekonomian Jawa Timur.
"Pemerintah harus bersikap tegas untuk memeriksa dan mengadili serta menerapkan asas pertanggungjawaban mutlak kepada direksi dan penanggung jawab PT Lapindo Brantas," kata Sahar.
Pemerintah juga diminta untuk tidak memanfaatkan laut sebagai tempat pembuangan lumpur panas karena bisa mengakibatkan kerusakan pada ekosistem laut.EPW mengharapkan pemerintah segera melakukan relokasi warga korban lumpur yang sampai saat ini nasibnya masih terlantar dan sangat memprihatinkan, serta mendesak berbagai pihak segera menyelesaikan ganti rugi pembebasan lahan yang digunakan untuk operasional PT Lapindo Brantas.(ant/cn09
posted by ABDUL BASIT
@ 7:25 PM
1 comments
![]()
15 September 2006, www.suarapembaruan.com
Otokritik terhadap LSM
SUARA PEMBARUAN DAILY
Otokritik terhadap LSM
Indra J Piliangdian Napitupulu, tokoh gerakan mahasiswa 1998, melontarkan tuduhan tentang bungkamnya lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan gerakan mahasiswa akibat mendapatkan dana dari pihak asing. Salah satu yang dituduh adalah Kontras yang dipimpin oleh Usman Hamid, juga tokoh gerakan mahasiswa 1998. Jawaban
Kontras sudah jelas, yakni mengelola keuangan Pokja Papua, berhubung karena masalah teknis- administratif dan bukan sebagai organisasi grantee. Bandingkan dengan lembaga-lembaga lain yang mendapatkan dana filantropis dari sumber-sumber dalam negeri.
Kritikan juga datang, termasuk dari penerima Ahmad Bakrie Award 2006, WS Rendra dan Arief Budiman atas kinerja perusahaan-perusahaan milik keluarga Bakrie dan pilihan "ideologis" Freedom Institute. Baik dana yang datang dari pihak asing, maupun dari dalam negeri, tetap saja memunculkan perbedaan pendapat.
Pengurus YLBHI, misalnya, pernah menyampaikan keberatan atas kemungkinan masuknya dana dari Tommy Winata. Tetapi, YLBHI tidak menampik dana dari Pemerintah DKI Jakarta. Padahal, pihak yang sering dibela oleh YLBHI termasuk korban-korban kebijakan dari Pemda DKI.
Hal ini menunjukkan, dalam tingkatan tertentu, sang pemberi dana bukan berarti adalah pihak yang harus dibela. Hubungan pemberi dana di bidang sosial berbeda betul dengan pemberi dana di bidang politik.
Perkembangan lain, alih-alih memberikan ruang kebebasan, aparat keamanan di Kepulauan Riau mencekal pertemuan Aliansi Rakyat Menggugat-IFI's. Tuduhan sebagai kelompok pengacau, terutama bagi utusan dari luar negeri, adalah bentuk dari represi yang sulit diterima di negara demokrasi.
Rupanya, sepak terjang dari kelompok-kelompok masyarakat sipil yang lantang berteriak tentang dominasi International Monetary Fund dan World Bank mulai menggelisahkan, sekalipun sampai sekarang pemerintah tetap saja mengajukan utang luar negeri yang kurang mendapatkan kritikan dari partai-partai politik.
Potret singkat wajah LSM kita itu menunjukkan betapa masih besarnya kendala internal dan eksternal yang di-hadapi.
Bukan hanya berjuang untuk mempertahankan idealisme dan integritas lembaga masing-masing, para aktivis LSM mulai berhadapan dengan kelompok-kelompok kritis di luar pemerintah.
Evaluasi
Barangkali, terdapat irisan kepentingan kelompok-kelompok yang mengkritisi LSM itu dengan partai-partai politik, tetapi sulit untuk ditolak betapa kondisi LSM memang memprihatinkan, terutama sekali LSM yang ada di luar Pulau Jawa.
Bahkan, Fahmi Panimbang menyebutkan betapa "..banyak LSM yang malah berperan memperlemah gerakan rakyat dan melakukan kegiatan kontra-produktif.." (http://indoprogress.blogspot.com/ 2006/09/lsm-dan-lemahnya-akuntabilitas-mereka.html). Walau belum disertai bukti yang cukup, persepsi yang muncul memperlihatkan betapa LSM mulai mengalami degradasi kepercayaan oleh publik.
Sehingga, patut dipikirkan untuk mulai melakukan evaluasi terhadap kinerja LSM, baik dalam kaitannya dengan kepentingan masyarakat secara luas, atau terlebih lagi bagi upaya memperlebar ruang artikulasi kepentingan masyarakat sipil sendiri.
Dibandingkan dengan partai-partai politik yang mendapatkan dana dari anggaran negara dan daerah, maka LSM jelas bekerja keras mempertahankan hidupnya. Bukan hanya berhadapan dengan penyelenggara negara, partai-partai politik dan kelompok bisnis, bahkan LSM sendiri mulai menjadi sasaran kemarahan organisasi massa tertentu. LSM seolah dijepit oleh arus kebebasan yang sejak semula ia dorong.
Sudah menjadi rahasia umum, betapa kantor atau sekretariat LSM sering berpindah-pindah tempat. Jarang LSM yang mempunyai kantor sendiri atau bertahan di alamat yang sama selama bertahun-tahun.
Rata-rata, kantor-kantor LSM menghuni gang-gang sempit dan kumuh, sebagian malah digunakan sebagai rumah tinggal, kecuali LSM-LSM mapan yang jumlahnya sedikit. Standar gaji juga minimalis, bahkan tanpa gaji sama sekali, kecuali yang bisa bergabung dengan LSM-LSM luar negeri sebagai karyawan kontrak untuk sejumlah proyek.
Bukan hanya itu, LSM harus berhadapan dengan kebutuhan peningkatan kemampuan kalangan aktivisnya, termasuk di bidang pendidikan. Sudah semakin banyak "jatah" beasiswa yang diberikan kepada aktivis LSM di luar negeri, namun untuk melanjutkan pendidikan di dalam negeri, tetap saja kesulitan dan sendirian.
Sulit sekali menemukan adanya lembaga yang khusus menyediakan beasiswa pendidikan, kecuali memang "membebani" para senior atau aktivis LSM yang dianggap sigap dan sukses mendapatkan dana. Kebutuhan untuk memperoleh jenjang pendidikan lebih tinggi itu adalah bagian dari upaya aktivis LSM untuk menjawab "kultur ijazah" yang hinggap dalam masyarakat Indonesia.
Konsolidasi
Kondisi LSM yang carut-marut itu menunjukkan betapa arah kritik yang selama ini tertuju kepada penyelenggara negara mulai berbalik ke dalam tubuh LSM sendiri.
Hanya saja, kritik itu tidak serta merta memberikan solusi. LSM bukanlah "makhluk sempurna", tetapi mewarisi semangat untuk memperbaiki kondisi masyarakat lewat kritik terukur dan objektif atas kinerja penyelenggara negara.
Kalaupun LSM mengalami keterbatasan dalam segi dana, sumber daya manusia, dan kesehatan internal, tidak akan mengurangi dampak kehadiran dan jejak rekamnya.
Untuk itu, perlu dipikirkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, langkah konsolidasi LSM menjadi hal penting dan strategis.
Selama ini, pertemuan kalangan LSM bergantung kepada isu-isu, baik yang menjadi agenda setting pemerintah atau media massa.
LSM hadir dengan serangkaian pernyataan pers yang mengisi halaman-halaman koran, lalu klipingan pemberitaan itu dianggap sebagai wujud keberhasilan.
Padahal, masalah tidak akan selesai dengan sendirinya hanya dengan memberikan pernyataan pers. Kedua, LSM layak untuk mengakar di tengah masyarakat.
Berbeda dengan partai-partai politik, LSM mempunyai ruang yang jauh lebih dinamis untuk menempatkan diri sebagai entitas independen dan idealis, tanpa memikirkan afiliasi politik. LSM perlu mempunyai sejumlah komunitas binaan yang secara berkelanjutan dijadikan sebagai contoh-contoh sukses.
Kerja sama lintas LSM menjadi mungkin dan bahkan dibutuhkan.Ketiga, LSM perlu menyusun me-kanisme perbantuan antarmere- ka, terutama dari segi dana, sumber daya manusia dan ilmu pengeta- huan.
Sudah saatnya LSM tidak lagi berdoa "berdasarkan funding masing-masing", melainkan merumuskan doa yang memang berguna dan bermanfaat bagi semua. Pembentukan semacam lembaga beasiswa tersendiri juga diperlukan, termasuk dengan konsekuensi "kontrak" yang jelas antara penerima dana dengan lembaga itu, misalnya berkiprah di LSM selama setahun pascakuliah.
Dengan menyelesaikan agenda-agenda itu, LSM setidaknya mulai memperbaiki kesehatan organisasi dan mentalitasnya, tanpa harus mengurangi daya kritis atas penyelenggara negara.
Ruang kebebasan yang seolah dirampas dan diisi oleh masyarakat politik layak untuk dipertandingkan dan dipersandingkan dengan masyarakat sipil.
Apabila hal itu tidak dilakukan, maka hegemoni akan kembali terulang dan LSM tertendang ke pinggiran, menjadi bagian marginal dari masyarakat marginal itu sendiri.
Penulis adalah peneliti Departemen Politik dan Perubahan Sosial CSIS, Jakarta
Last modified: 15/9/06http://www.suarapembaruan.com/News/2006/09/15/Editor/edit01.htm
posted by ABDUL BASIT
@ 2:14 PM
0 comments
![]()




